Tampilkan postingan dengan label ULAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ULAMA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Agustus 2017

Hatim al ashom

Hatim Al-Ashom Ulama besar muslimin, teladan kesederhanaan dan tawakal.

Suatu hari ia berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi untuk menuntut ilmu. Istri dan putri-putrinya keberatan. Karena siapa yang akan memberi mereka makan.

Salah satu dari putri-putri itu berusia 10 tahun dan hapal Al-Quran.

Dia menenangkan semua: "Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan tidak pernah mati!"

Hatim pun pergi, Hari itu berlalu, malam datang menjelang. Mereka mulai lapar. Tapi tidak ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yang telah mendorong kepergian Ayah mereka.

Putri hapal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: "Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!"

Dalam suasana seperti itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka. Terlihat para penunggang kuda. Mereka bertanya: "Adakah air di rumah kalian?".

Penghuni rumah menjawab: "Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air".

Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka. Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya: "Rumah siapa ini?".

Penghuni rumah menjawab: "Hatim Al-Ashom". 
Penunggang kuda terkejut: "Hatim, ulama besar muslimin.."

Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kepada para pengikutnya: "Siapa yang mencintai saya, lakukan seperti yang saya lakukan.."

Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yang berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, karena banyaknya kantong-kantong uang. 
Mereka kemudian pergi.

Tahukah anda siapa pemimpin penunggang kuda itu...?.

Ia adalah Abu Ja'far Al Manshur, Amirul Mukminin.

Kini giliran putri 10 tahun yang telah hapal Al-Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. Dia memberikan PELAJARAN AQIDAH yang sangat mahal sambil menangis, dia berkata:

"JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YANG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHOLIQ?.

إذا كانت النظرة من المخلوق تكفينا فكيف بنظرة الخالق؟.

***

اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا

"Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami ..."

Kontribusi kanthongumur

Kamis, 10 Agustus 2017

Rutinitas kh marzuqi dahlan lirboyo

Menjelang Haul mbah yai Marzuqi Dahlan
Salah satu rutinitas yang istiqomah beliau jalani adalah ziaroh maqbaroh para auliya' dan orang sholih. Setiap kamis sore setelah Ashar beliau selalu ziaroh di maqom Banjarmelati dan sekitarnya, setelah Isya' biasanya beliau ke maqom Jampes dan sekitarnya diakhiri di Setonolandean maqom Mbah Mursyad dan di maqom mbah Mursyad inilah beliau paling sering mendapat petunjuk, seperti tatkala beliau berkeinginan untuk berangkat haji di maqom mbah Mursyad ini beliau mendapat petunjuk untuk menyelesaikan dulu gothakan santri baru boleh berangkat haji. Sehingga beliau pun membangun gedung al Ikhwan yang bawah untuk asrama santri dan yang atas untuk madrasah.
Dan tradisi berziarah terutama di maqom mbah Mursyad ini diteruskan oleh putra beliau mbah Idris, bahkan kemudian mengajak santri yang menjelang tamat sekolah setiap malam jumat untuk beristighotsah dan berdzikir.

Ketawaduan kh arwani kudus

"Mbah Arwani Membersihkan Kerikil Jalan yang Dilewati Ibunya Kiai Ma’ruf Irsyad"

Suatu saat, KH Ma’ruf Irsyad bersama Ibu Nyai Munijah sowan KH Arwani Amin. Di ndalem Mbah Arwani, Kiai Ma’ruf dan Nyai Munijah dipersilakan duduk di tempat yang telah disiapkan sebelumnya. Kiai Ma’ruf kaget karena Mbah Arwani justru duduk lebih rendah dari tempat yang disediakan itu.

Melihat pemandangan tidak wajar itu, Kiai Ma’ruf bertanya, “Mbah yai, jenengan kok duduk di bawah.” Mbah Arwani menjawab tegas, “yang datang sowan ke saya ini istrinya teman guru saya.”

Tentu Kiai Ma’ruf kikuk mendapatkan perlakukan istimewa dari sang guru, KH Arwani Amin, yang selain alim-allamah, juga disebut Mbah Hamid Pasuruan sebagai sosok waliyullah Kudus yang sangat dikenal akhaq mulianya.

Tidak hanya di ruang tamu, ketika pulang pun, Kiai Ma’ruf tambah dibuat heran dan kagum. Jalan menuju pulang penuh dengan kerikil batu yang mengganggu. Tanpa diduga, Mbah Arwani menyingkirkan kerikil tersebut dengan tangannya sendiri, tidak memerintah kang santri agar perjalanan pulang istri teman guru lancar.

“Mbah yai, ampun, sudah, tidak usah mbah yai,” kata Kiai Ma’ruf.

“Sudah, diam saja,” sahut Mbah Arwani tetap menyingkirkan kerikil yang sebetulnya tidak perlu.

Cerita di atas dituturkan sendiri oleh KH Ma’ruf Irsyad di sela-sela mulang ngaji santri di Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin (PPRM), Jagalan Kudus.

Apa yang dilakukan oleh Mbah Arwani tersebut bukan sesuatu yang berlebihan dan sia-sia. Itu adalah praktik melimpah atas akhlaq hormat seorang alim kepada istri teman guru. Bayangkan, bukan gurunya, tapi istri teman dari gurunya.

Nyai Munijah, ibu Kiai Ma’ruf Irsyad, adalah istri KH Irsyad yang berteman akrab dengan guru KH Arwani Amin bernama Mbah Mansur, Popongan, Klaten. Kepada Mbah Mansur yang asli Mranggen inilah Kiai Arwani belajar thariqah. 

Maaf (sebagai catatan pribadiku ) share dari web:
http://santrimenara.com/mbah-arwani-membersihkan-kerikil-jalan-yang-dilewati-ibunya-kiai-maruf-irsyad-1193