Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Maret 2023

BULE RUSIA INI TERNYATA SEORANG MUSLIMAH....



Ayo kenalan dengan bule Rusia yang beragama Islam
Beliau bernama Daniya Sabirova yang bertempat tinggal di Saint Petersburg Rusia. jangan heran jika Wanita Cantik berdarah Rusia ini adalah sosok yang luar biasa. mau tahu apa itu?? silahkan simak dalam ulasan berikut ini. 
  
Menguasai 7 Bahasa 
Yups... bukan kaleng-kaleng, kemampuan Sosok Wanita cantik ini mampu menguasai 7 Bahasa Internasional. bahasa yang dikuasainya bahkan lintas benua.... bahasa apa yang dikuasainya??
1. Bahasa Russia
bahasa rusia merupakan bahasa sehari-hari wanita yang aktif dalam youtub ini.

2. Bahasa Swedia 
wanita yang sangat menyukai bahasa ini juga bisa berbicara bahasa Swedia.

3. Bahasa Jerman
baru mempelajari bahasa jerman, tapi sudah sangat mahir menggunakannya.

4. Bahasa Jawa 
tidak heran beliau bisa bahasa jawa, bule yang pernah 4 tahun tinggal di indonesia ini juga mahir dalam bahasa jawa 

5. Bahasa inggris 
bahasa inggris juga menjadi bahasa yang dikuasai oleh Daniya ini. bahkan logat asli rusia seakan hilang dalam pelafalan bahasa inggris tidak seperti orang rusia pada umumnya. 

6. bahasa Tatar
bahasa tatar merupakan bahasa suku di Russia, seperti bahasa jawa di Indonesia. tatar merupakan suku dari pemilik channel yuotube ORVALA

7. bahasa Indonesia
selain bahasa di atas, tentunya bahasa Indonesia juga dikuasai oleh wanita cantik ini. 

menikah dengan orang malang-Indonesia 
Fakta mengejutkan lainnya adalah, ternyata Daniya ini bersuamikan orang malang Bernama Andre, yang ber almamater SMA 5 Malang..
tidak heran, Daniya bisa lancar berbahasa Indonesia dan Jawa. pernah tinggal di Indonesia 4 tahun lamanya, dari tahun 2013.

demikian sedikit informasi tentang Bule Muslimah ini. 
semoga bermanfaat dan salam pustaka 





Minggu, 03 September 2017

Al-khalil bin Ahmad (Guru Besar Nahwu)


Nama dan nasab lengkap beliau adalah Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi bin ‘Amru bin Tamim Al-Farahidi Al-Azdi Al-Yahmadi Al-Bashri. Namun beliau lebih dikenal dengan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi saja. Kunyah beliau adalah Abu Abdirrahman.
Dan nama lengkapnya dalam bahasa Arab seperti ini ( الخليل بن أحمد بن عمرو بن تميم الفراهيدي الأزدي اليحمدي ). Beliau lahir di Oman pada tahun 100H. Dan sejak kecil sudah hijrah ke Basra, dan menetap di sana hingga wafat.
Guru-Guru Beliau
Sejak dini beliau tekun menuntut ilmu, dan berguru dari beberapa ulama besar.
Guru bahasa Arabnya antara lain: Ibnu Abi Ishaq Al-Hadhrami, Abu Amru Al-Bashri, dan Isa bin Umar Ats-Tsaqafi.
Selain ilmu bahasa Arab, beliau juga belajar hadits dan meriwayatkannya dari beberapa ulama hadits, Yaitu:  Ayyub As-Sikhtiyani, Ashim bin Sulaiman Al-Ahwal, Al-‘Awwam bin Hausyab dan Ghalib Al-Qathan.
Murid-Murid Beliau
Karena beliau adalah seorang ulama besar, banyak orang yang datang ingin menjadi muridnya untuk menguras ilmu yang ia miliki.
Berikut ini beberapa nama-nama murid yang menonjol dan disebutkan oleh ahli sejarah, diantaranya adalah Sibawaih, Abdulmalik bin Quraib Al-Asma’i, Al-Kisa’i, An-Nadhar bin Syamil, Harun bin Musa an-Nahwi, Wahb bin Jarir, dan Ali bin Nashr al-Hadhrami.
Sifat dan Akhlak Beliau
Keluasan ilmu dan kejeniusan Al-Khalil (julukan beliau) sudah tidak diragukan lagi. Namun begitu, ia tetap rendah hati, bahkan dikenal sebagai zaahid (ahli zuhud) dan wari’ (orang yang menghindari berlebihan dalam hal-hal yang mubah). Dan para ulama sejarah sepakat, bahwa tidak ada ahli bahasa yang lebih mulia akhlak dan jiwanya dari beliau.
Ibnu Khalikan menukil dari salah satu muridnya An-Nadhr bin Syumail, ia berkata:”Al-Khalil tinggal di sebuah gubuk di kota Basra, yang harganya tidak lebih dari 2 fils (nominal yang sangat rendah sekali), padahal murid-muridnya mendapatkan banyak harta dari ilmu yang mereka peroleh darinya“.
Pernyataan tersebut menunjukkan kezuhudan dan berpalingnya dari kemewahan dunia. Padahal jika beliau mau, bisa saja ia meminta setiap yang ingin berguru kepadanya untuk membayar iuran tetap. Namun dengan ketinggian dan keluasan ilmunya, beliau tidak sombong dan takjub, atau menggunakannya untuk meraih kesenangan dunia.
Disebutkan bahwa gubernur Persia dan Ahwaz di masa itu mendengar perihal kehidupan beliau yang sahaja, bahkan sulit, ia ingin memberinya insentif bulanan dari harta negara, supaya bisa menutupi kebutuhan hidupnya.
Lalu ia mengutus utusannya kepada Al-Khalil dan mengundangnya ke istana.
Namun ketika utusan gubernur tiba, ia menyambutkan, lalu mengeluarkan roti kering dan berkata: “Katakan kepada tuanmu, aku tidak bisa menerima apa yang ia berikan, selama aku bisa mendapatkan ini, sudah cukup bagiku“.
Subhanallah, alangkah mulianya jiwa tersebut. Maka, tidaklah berlebihan ketika Imam Sufyan bin Uyainah –rahimahullahu– berkata: “Siapa yang ingin melihat orang yang diciptakan dari emas dan kasturi, hendaklah ia melihat kepada Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi.“
Karya Ilmiyyah
Beliau memiliki banyak karya ilmiyah/buku, diantaranya:
    Mu’jam Al-‘Ain ( مُعْجَمُ / كِتَابُ العَيْنِ ) merupakan kamus pertama dalam bahasa Arab.
    Kitab An-Nagham ( كِتَابُ النَّغَمِ ).
    Kitab Al-‘Aruudh ( كِتَابُ العَرُوْضِ ).
    Kitab Asy-Syawaahid ( كِتَابُ الشَّوَاهِدِ ).
    Kitab An-Nuqath wa Asy-Syakl ( كِتَابُ النُّقَطِ وَالشَّكْلِ ).
    Kitab Al-Iiqaa’ ( كِتَابُ الإِيْقَاعِ ).
    Kitab Ma’aanii Al-Huruuf ( كِتَابُ مَعَانِي الحُرُوْفِ ).
Wafat
Beliau wafat di kota Basra – Iraq pada bulan Jumada Al-Aakhirah tahun 174HH, pada masa kepemimpinan Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Dinasti Abbasiyyah.
Imam Adz-Dzhabi menyebutkan di  bukunya Tarikh Al-Islam  sebuah kisah yang menjelaskan sebab meninggalnya beliau, diriwayatkan bahwa ia (Al-Khalil) berkata: “Aku sedang memikirkan sebuah metode, supaya Al-Hisab (Matematika) mudah difahami oleh orang awam“. Lalu ia masuk ke masjid sambil terus berfikir, dan tanpa disadari ia menabrak tiang yang ada di depannya, lalu ia jatuh dan wafat setelahnya.
Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa ia menabrak tiang ketika sedang taqtii’ asy-syi’r (istilah untuk sebuah kegiatan dalam ilmu Al-‘Arudh), dan meninggal setelahnya.
Catatan :
Diambil dari
http://www.belajarbahasaarab.org/2015/10/biografi-al-khalil-bin-ahmad-al-farahidi.html

Sabtu, 02 September 2017

Imam Sibawaih (2)

Nama lengkap beliau adalah Amru bin Utsman bin Qanbar. Sibawaih adalah julukan beliau. Diambil dari bahasa Persia yang terdiri dari 2 pecahan kata, yaitu”sib” artinya buah apel, dan “waih” artinya wangi, jadi Sibawaih artinya wangi buah Apel. Atau ada juga yang mengatakan alasan kenapa beliau mendapat julukan Sibawaih karena kedua pipinya bagaikan buah apel.
Para ahli sejarah tidak banyak menemukan catatan tentang asal muasal keluarga Sibawaih, dan bagaimana kondisi serta keadaan keluarganya secara sosial dan keilmuan. Tapi dari beberapa catatan yang ada menunjukkan bahwa keluarga beliau berasal dari Persia.
Para sejarawan berselisih pendapat, kapan beliau lahir, dikarenakan rujukan dan referensi yang minim sekali. Ada beberapa ahli sejarah yang mengatakan kalau beliau lahir pada tahun 148H/765M. Tapi ada beberapa ahli sejarah yang mengatakan selain dari itu.
Dan yang pasti adalah beliau lahir di Albaidha’ (sebuah wilayah bagian dari Kekaisaran Persia). Walaupun lahir di Persia, namun Imam Sibawaih tumbuh dan besar di Bashra (Iraq).
Di awal menuntut ilmu, Sibawaih mendatangi masjis hadits yang diasuh oleh seorang Imam Hadits besar bernama Hammad bin Salamah Al-Bashri. Hingga suatu saat Sibawaih menyanggah sebuah hadits yang disampaikan oleh gurunya dan mengkritikinya dari sisi kaidah bahasanya. Dan ternyata apa yang disanggah oleh Sibawaih adalah salah, hingga menyebabkan sang guru marah dan berkata :”Wahai Sibawaih, kamu telah salah besar, itu tidak seperti yang kamu kira”. Lantas Sibawaih berkata :”Sungguh aku akan pelajari sebuah ilmu, yang dengannya aku tidak akan disalahkan lagi”. Maka ia pun mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bahasa Arab hingga ia mahir dan menjadi ahli di bidang tersebut.
Guru-gurunya :
Hammad bin Salamah Al-Bashri termasuk guru Sibawaih yang paling terkenal. Namun setelah ia memutuskan untuk beralih mempelajari ilmu bahasa Arab, maka ia pun berguru pada Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Ia berguru kepadanya penuh dengan rasa suka, tekad bulat dan keinginan yang kuat. Iapun mengikuti gurunya seperti bayangan mengikuti sebuah benda. Dan pengaruh gurunya itu terlihat jelas di lembaran-lembaran kitab karyanya.
Sibawaih tidak puas hanya berguru ilmu Nahwu dan bahasa Arab kepada Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, ia pun turut berguru kepada Yunus bin Habib, Isa bin Umar dan lain-lainnya. Maka terbukalah wawasan dan keilmuan Sibawaih, dan dengannya ia memperoleh martabat kelimuan yang spesial.
Kemudian ia pun marantau ke Baghdad pusat Dinasti Abbasiyah yang merupakan pusat peradaban dan keilmuan. Dan disana ia bertemu dengan Kisa’i (guru besar orang-orang Kufah). Dan terjadilah beberapa diskusi dan perdebatan dalam masalah Nahwu, dan yang paling terkenal adalah almas-alah az-zanbuuriyyah (diskusi tentang tawon).
Setalah perdebatan itu Sibawaih tidak menetap lagi di Baghdad, dan ia kembali ke negeri asalnya Persia dan tidak kembali lagi ke Bashra.
Murid-muridnya :
Sibawaih tidak memiliki murid yang banyak, dikarenakan masa hidupnya yang singkat sebelum akhirnya ia meninggal. Di antara mereka berguru darinya dan menonjol adalah Abul Hasan Al-Akhfasy dan Quthrub (kecoa). Alasan kenapa ia disebut dan dikenal dengan julukan itu, karena suatu saat Sibawaih keluar di waktu menjelang terbitnya fajar, dan ia melihatnya berdiri di depan pintu, lalu Sibawaih berkata : “Sungguh kamu itu quthrub malam”, karena quthrub adalah binatang yang selalu bergerak dan tidak pernah diam (berhenti bergerak).
Catatan:
Sebagai dokumentasi pribadi :)
Sumber : http://www.belajarbahasaarab.org/2015/05/mengenal-imam-sibawaih.html

Imam Sibawaih

Nama aslinya ‘Amr bin Utsman bin Qanbar. Hidup antara tahun 760-796 M/148-180 H. Beliau adalah murid Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi.
Dalam kajian nahwu, pendapat Imam Sibawaih menjadi rujukan penting. Beliau mewakili mazhab Basrah yang sering berselisih pendapat dengan mazhab Kufah yang dipimpin oleh Imam al-Kisai. Pendapat-pendapat Imam Sibawaih banyak dikutip dalam berbagai kitab. Ada 5 sisi unik yang perlu Anda tahu tentang Imam Sibawaih. Berikut uraiannya.
1. Selamat di Alam Kubur karena Ilmu Nahwu
Abdul Hamid asy-Syarwani meriwayatkan dalam Hawasyi asy-Syarwani (I/8), ada sahabat Imam Sibawaih yang memimpikan beliau setelah wafatnya. Orang itu lalu bertanya, “Apa yang Allah perbuat kepadamu?”
Imam Sibawaih menjawab, “Allah karuniakan banyak kebaikan karena aku telah mencetuskan pendapat bahwa nama-Nya adalah isim paling ma’rifat.” Mimpi ini paling tidak menggambaran kepakaran Imam Sibawaih dalam bidang nahwu. Wong, Allah sendiri yang mengakui kepakarannya. Hehehe.
2. Berwajah Sangat Tampan dan Harum Aroma Tubuhnya
Ulama Nahwu satu ini berwajah sangat tampan. Lebih istimewa lagi tubuhnya beraroma harum khas apel.  Karena itulah ia dijuluki Sibawaih, yang menurut bahasa daerahnya berarti bau apel. Saking tampannya, Imam Khalil, guru Sibawaih, tak mau menatap wajah muridnya ini ketika mengajar.
Beliau cukup membelakanginya saja. Kalaupun harus menghadap ke arah Sibawih, maka Imam Khalil menutup wajahnya dengan jubah. Demikian diceritakan dalam Hasyiyah Ibnu Hamdun juz 2 hal 54.
3. Kitab-kitabnya Dibakar Istri
Masih dikutip dari Hasyiyah Ibnu Hamdun. Imam Sibawaih pernah menikah dengan seorang wanita dari Basrah. Sayangnya, meskipun wanita itu sangat mencintainya, beliau justru sibuk sendiri menekuni ilmu dan menulis kitab. Sang istri merasa cemburu dengan kitab-kitab itu.
Hingga suatu ketika, saat Imam Sibawaih pergi ke pasar untuk suatu keperluan, sang istri membakar seluruh kitab-kitab Imam Sibawaih. Begitu pulang dan melihat kitabnya telah hancur, pingsanlah sang imam. Saat sadar, ia langsung menceraikan istrinya itu. Mungkin karena peristiwa inilah, hanya sedikit karya Imam Sibawaih yang tersisa.
4. Perdebatan Ilmiah yang Mengecewakan
Saat berumur 35 tahun, Imam Sibawaih terlibat perdebatan dengan al-Kisai. Hal itu terjadi di hadapan Amir Abu Ja’far dari dinasti Abbasiyah dan Perdana Menteri Yahya bin Khalid.
Perdebatan itu membahas tentang perkataan “Qad kuntu azhunnu anna al-‘aqrab asyaddu lis’atan min az-zunbûr faidza huwa hiya (sungguh aku menyangka bahwa kalajengking itu sengatannya lebih kuat daripada kumbang zanbur. Ternyata memang demikian).”
Menurut Sibawaih, hiya harus dalam bentuk dhamir rafa’ dan tak boleh nashab (iyyaha). Sementara itu, menurut al-Kisai, boleh rafa’ (hiya) juga boleh dengan dhamir nashab menjadi iyyaha.
Perdebatan sengit itu ditengahi oleh Perdana Menteri Yahya dengan mendatangkan salah satu kabilah Arab yang berdekatan dengan kota Kufah atas usulan dari al-Kisai.
Singkat cerita, kabilah itu membenarkan pendapat Imam al-Kisai. Imam Sibawaih merasa ada kecurangan karena kabilah itu hanya sekadar menyetujui pendapat al-Kisai saja tetapi enggan untuk menirukan ungkapan yang diperselisihkan tadi.
Ada indikasi mereka mengiyakan pendapat al-Kisai, karena al-Kisai lebih dekat kepada penguasa atau mungkin saja mereka dalam tekanan.
Dengan membawa kekecawaan mendalam, Sibawaih pulang ke desa kelahirannya, al-Baidha, daerah bernama Syiraz di kawasan Persia (Iran).
Perdana menteri Yahya ketika itu memberinya hadiah 10.000 dirham. Sejak kejadian itu ia tak pernah lagi muncul di Basrah. Imam Sibawaih meninggal tak lama setelah itu dalam umur 36 tahun di desa kelahirannya. Kisah ini juga dimuat dalam Hasyiyah Ibnu Hamdun.
5. Kitab Monumental Tanpa Judul
Sebagaimana dijelaskan oleh Harun Abdussalam dalam prolog editannya atas al-Kitab. Karya paling monumental milik Sibawaih adalah al-Kitab.
Karyannya ini menjadi rujukan banyak ulama Nahwu setelahnya. Begitu pentingnya hingga dijuluki sebagai “Qur’an an-Nahwi (Qurannya Nahwu)”. Al-Kitab berjumlah 4 jilid.
Uniknya, sejak awal kitab ini sebenarnya tak dinamai apa pun oleh penulisnya. Sehingga  para ulamalah yang menamai karya Sibawaih itu dengan al-Kitab. Selanjutnya, istilah “al-Kitab” dalam kitab-kitab nahwu maksudnya adalah kitab Imam Sibawaih tersebut.
Catatan
Koleksi pribadi sebagai pengingat dan meneladani ulama2, hasil copas dari :
http://www.datdut.com/5-fakta-unik-tentang-imam-sibawaih-yang-harus-anda-tahu/

Jumat, 18 Agustus 2017

BIOGRAFI KH MUNAWIR KRAPYAK

Apabila kita berbicara mengenai ulama nusantara yang ahli al-Quran maka tidak bisa dilepaskan dengan sosok KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta. Nama beliau telah tercatat dengan menggunakan tinta emas dan abadi dalam hati para penghafal dan pecinta al-Quran di bumi pertiwi ini. Nama beliau harum semerbak mewangi dan telah menghantarkan ribuan para penghafal al-Quran menjadi orang-orang yang siap lahir batin menjadikan al-QUran sebagai pedoman dan wirid hidup mereka. Lalu bagaimanakah sebenarnya perjalanan hidup KH. Munawwir krapyak ini? Pada kesempatan kali ini admin majelis walisongo akan membagikan sekilas mengenai biografi beliau yang sangat indah ini semoga bermanfaat bagi para pembaca budiman dimanapun anda berada. 

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad

Cucu Seorang Pejuang Besar

Sosok KH. Munawir Krapyak tidak bisa lepas dari kebesaran nama Kyai Hasan Bashari atau lebih dikenal dengan Kyai Hasan Besari. Kyai Hasan Besari adalah merupakan ajudan pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasional yang sangat berjasa dalam usaha penumpasan penjajah di muka bumi pertiwi ini. 

Pada waktu hidupnya, Kyai Hasan Besari ini critanya ingin menjadi seorang ulama yang hafal al-Quran dan karenanya beliau melakukan riyadhah dan berusaha keras lahir batin untuk menghafal al-Quran. Namun beliau suatu ketika mendapatkan ilham bahwa yang akan menjadi ahli al-Quran adalah anak cucu beliau. Demikian pula anaknya yang bernama KH. Abdullah Rosyad yang juga berjuang dengan riyadhah dan kedisiplinan tinggi untuk menghafal al-Quran. Bahkan ketika di tanah suci Makkah selama 9 tahun beliau riyadhah untuk menghafalkan al-Quran, namun beliau mendapatkan ilham bahwa yang akan dianugerahi hafal al-Quran adalah anak cucunya.

Di kemudian hari KH. Abdullah Rosyad ini memiiki sebelas orang anak dari empat orang istri. Dari kesebelas orang anak ini salah satunya adalah KYai Haji Muhamad Munawwir yang merupakan anak beliau dari buah pernikahan beliau dengan salah satu istri bernama Nyai Khadijah dari Bantul, Yogyakarta.

Belajar Ilmu Agama 

Sejak kecil, KH. Munawir telah mendapatkan gemblengan pendidikan agama yang sangat ketat dari ayahnya sendiri yaitu KH. Abdullah Rosyad. Bahkan saking ketatnya beliau dituntut untuk bisa khatam dalam waktu seminggu sekali. Sang ayah dengan semangat besar senantiasa memberikan suntikang semangat dan dukungan baik materi maupun imateri pada beliau. Saking semangatnya, sang ayah akan memberikan hadiah sebesar Rp. 2,50 jika dalam satu minggu Munawwir kecil dapat mengkhatamkan al-Quran sekali. Padahal uang segitu di masa beliau cukup banyak untuk bisa digunakan membeli sesuatu. Dan memang pada akhirnya target khatam seminggu sekali dapat dilaksanakan oleh Munawir kecil dengan sangat baik, dan bahkan terus berlangsung secara istiqamah walaupun beliau tidak mendapatkan hadiah uang itu lagi.

Setelah dirasa cukup belajar kepada sang Ayah, KH. Munawir kecil kembali meneruskan perjalanan thalabul ilminya kepada para ulama besar baik itu ulama nusantara maupun ulama timur tengah. Adapun ulama nusantara yang pernah menjadi tempat beliau nyantri dan menimba ilmu adalah sebagai berikut:

Syaikh Abdurrahman Watucongol, MagelangSyaikh Sholeh Darat, SemarangSyaikh Kholil Bangkalan, MaduraSyaikh Abdullah, Kanggotan BantulPada tahun 1888 masehi beliau melanjutkan rihlah thalabul ilminya ke tanah suci,dan di sana beliau belajar kepada para ulama besar setempat, diantaranya kepada:
Syaikh SyarbiniSyaikh Abdullah SanqaraSyaikh Ibrahim HuzaimiSyaikh MukriSyaikh Abdus SyakurSyaikh MusthofaSyaikh Yusuf Hajar, yang merupakan guru beliau dalam qiraah sab'ah

 Suatu ketika KH. Munawwir pernah bertemu dengan nabiyullah Khidir alaihis salam dan mendapatkan doa secara langsung dari beliau. Ceritanya, beliau di masa thalabul ilminya di tanah suci sedang dalam suatu perjalanan dari makkah menuju Madinah. Di suatu tempat di Rabigh beliau berumpa dengan seorang pak tua yang tidak beliau kenal. Pak tua tersebut kemudian mengajak berjabat tangan dan lantas  mendoakan beliau semoga beliau menjadi seorang hafidzul quran wa hamilul quran sejati. Menurut Syaikh Arwani Amin, Kudus, orang tua yang menjabat tangan dan mendoakan KH. Munawwir itu adalah Nabiyullah Khidir Alaihis Salaam.

Riyadhah KH. Munawir dalam Menghafal dan Menjaga al-Quran

KH. Munawir merupakan sosok ulama yang sangat tekun dan istiqamah dalam menjaga dan mengamalkan al-Quran. Terkait dengan usaha beliau menjaga hafalan al-Quran maka beliau melakukan riyadhah yang sangat ketat dan sulit untuk ditiru oleh generasi sekarang ini. Beliau pernah melakukan riyadhah yaitu harus mengkhatamkan al-Quran sebanyak satu kali setiap 7 hari 7 malam. Riyadhah ini beliau lakukan selama 3 tahun. Setelah itu beliau meningkatkan kualitas riyadhahnya dengan cara mengkhatamkan al-Quran setiap 3 hari 3 malam sekali. Hal ini dilakukan selama 3 tahun. Setelah itu ditingkatkan lagi riyadhahnya dengan mengkhatamkan al-Quran 1 hari 1 malam sekali selama tiga tahun juga. Terakhir, beliau tingkatkan riyadhahnya dengan membaca al-Quran selama 40 hari tiada henti. 

Adapun waktu yang biasa beliau gunakan untuk mewiridkan al-Quran adalah setiap selesai shalat ashar dan setiap bakda subuh. Selain itu, dimanapun beliau berada baik di rumah maupun sedang bepergian, senantiasa beliau itu tidak pernah lepas dari mewiridkan al-Quran. Walaupun beliau seorang hafidz al-Quran sejati, namun beliau masih saja sering terlihat menggunakan mushaf untuk dibaca karena memang seperti itulah cara seorang hafidz al-Quran dalam menjaga hafalannya, jangan mentang-mentang sudah hafal kemudian meninggalkan mushaf suci al-Quran. Itu merupakan kesombongan yang tidak boleh ada sedikitpun dalam diri para penghafal al-Quran.

Beliau secara istiqamah mengkhatamkan al-Quran seminggu sekali tepatnya pada hari kamis sore beliau melakukan khataman al-Quran. Amalan ini beliau lakukan sejak beliau masih berusia 15 tahun hingga beliau wafat. 

Apabila KH. Munawir sedang menghadapi peristiwa ataupun masalah yang menyangkut umat/santri, maka beliau biasanya segera mengumpulkan para santri untuk berdoa bersama. Biasanya beliau memerintahkan para santri untuk bersama-sama mewiridkan shalawat nariyah sebanyak 4444 kali dan membaca surah Yasin sebanyak 41 kali. 

Sosok KH. Munawir merupakan sosok yang amat istiqamah dalam beribadah. Lebih-lebih terkait ibadah shalat fardhu, maka beliau senantiasa menggunakan awal waktu untuk melaksanakannya. Begitu pula dengan shalat sunnah seperti shalat sunnah rawatib juga tidak pernah beliau tinggalkan. Beliau juga merupakan ulama yang senantiasa melanggengkan shalat sunnah witir, shalat sunnah isyraq, shalat sunnah dhuha, dan shalat sunnah tahajud. Beliau juga sangat menekankan pentingnya untuk berziarah kubur, mendoakan orang tua, ulama dan kaum muslimin yang telah lebih dahulu wafat dan bertabarukkan dengan mereka. Bahkan saking pentingnya, beliau mewajibkan para santri untuk istiqamah ziarah kubur setiap kamis sore. 

Di mata beliau, seorang penghafal al-Quran yang sejati adalah sebagai berikut:

Senantiasa bertakwa kepada Allah ta'alaMampu shalat tarawih dengan hafalan al-Quran sebagai bacaan surahnyaBeliau sangat mengangungkan al-Quran dan mushaf suci al-Quran. Beliau termasuk orang yang sangat ketat dalam hal ini, hingga beliau hanya akan memberikan undangan haflah khotmil quran kepada orang-orang yang kalau memegang mushaf al-Quran senantiasa dalam keadaan suci dari najis dan hadats.

Ulama Besar yang Penuh Kesederhanaan

Sosok KH. Munawwir juga merupakan sosok yang terkenal rapi dan bersih serta senantiasa menampilkan kesederhanaan hidup. Beliau senantiasa menggunakan imamah dan penutup kepala seperti sorban, peci, maupun kedua-duanya. Kalau berpakaian maka beliau menggunakan pakaian yang bersih, suci, dan sederhana, seperti jubah, sarung, serban senantiasa bersih. Apabila bepergian beliau menggunakan jasnhitam, serban hijau, sarung dan alas kaki. 

Beliau tidak pernah makan hingga kenyang, terlebih di waktu bulan ramadhan, maka beliau berbuka dan sahur ala kadarnya, cukup dengan satu cawan nasi ketan untuk sekali makan. Hal ini tentu saja akan bermanfaat bagi tubuh, karena mengonsumsi makanan dengan wajar akan menjadikan tubuh sehat dan proporsional, berbeda apabila terlalu kenyang maka akan menjadikan tidak bersemangat, mengantuk, dan pada akhirnya tidak bisa istiqamah beribadah kepada Allah. 

Keluarga KH. Munawwir Krapyak

KH. Munawwir Krapyak hidup di tengah-tengah keluarga besar beliau yang ahli al-Quran. Beliau memiliki lima orang istri yang mana istri ke lima beliau nikahi sesudah wafatnya istri beliau yang pertama. Dan berikut ini adalah nama-nama istri beliau:

Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, YogyakartaNyai Haji Sukistiyah, Wates, YogyakartaNyai Salimah, Wonokromo, Bantul, YogyakartaNyai Rumiyah, Jombang, Jawa TimurNyai Khodijah, Knggotan, Gondowulung, Bantul, YogyakartaDari Nyai Raden Ajeng Mursydah ini beliau memiliki lima orang putra putri, yaitu:

Abdullah Siroj, wafat saat masih kecilKhodijah, wafat pada saat masih kecilUmatulloh, wafat pada saat masih kecilKH. Raden Abdullah AfandiKH. Raden Abdul Qadir Munawwir (lahir sabtu legi, pukul 17.00 WIB, tanggal 11 Dzulqa'dah 1338 H/24 Juli 1919 Masehi. Dari putra bungsu beliau inilah nantinya lahir seorang ulama besar, ahli al-Quran, hafidzul Quran, hamilul Quran di masa ini, yaitu Romo KH. Raden Muhammad Najib  bin Romo KH. Raden Abdul Qadir bin KH. Munawwir Krapyak, yang sekarang menjadi pengasuh utama Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.Silsilah Sanad al-Quran Qiraah Imam Ashim dari Riwayat Hafs dan Thariq Ubaid bin al-Shabbah

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Karim al-Hajj Umar al-Badri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ismail, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ahmad Ar-Rasyidi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Musthafa bin Abdurrahman al-Azmiri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Hijazi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ali bin Sulaiman al-Manshuri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Sulthan al-Muzaahi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Saifuddin Athaillah al-Fadholi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah  Syakhadzah al-Yamani, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Nashiruddin Ath-Thablawi, dariSayyidi Asy-Syaikh Zakariyya al-Anshari, dariSayyidi Al-Imam Ahmad As-Suyuthi, dariSayyidi al-Imam Abul Khair Muhammad bin Muhammad ad-Dimasyqi al-Masyhur (yang terkenal) dengan nama Syaikh al-Jazairi, dariSayyidi al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Khaliq al-Mishri  asy-Syafi'i, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Syuja' bin Salim, bin Ali bin Musa al-Abbasi al-Mishri, dariSayyidi al-Imam Abul Qasim asy-Syathibi al-Andalusi asy-Syafi'i, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Hudzail, dariSayyidi al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Najah al-Andalusi, dariSayyidi al-Imam al-Hafidz Abu Amr Usman bin Said ad-Dani, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Thahir, dariSayyidi al-Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin al-Fairuzani al-Asynani, dariSayyidi al-Imam Abu Muhammad Ubaid bin Ash-Shabah bin Shabih al-Kufi, dariSayyidi al-Imam Abu Amr Hafs bin Sulaiman bin al-Mughirah al-Asadi al-Kufi, dari SAYYIDI AL-IMAM 'AASHIM BIN ABI AL-JUNUD, dariSayyidi Al-Imam Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib bin Rabi'ah as-Salma, dariSayyid Usman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dari Sayyidina Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'Anhu, dan Sayyidina Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ubay bin Ka'ab Radhiyallahu 'Anhu, dariSayyidina Wa Maulana Wa Habibina Rasulillah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa 'Alaa aalihi wa Shahbihi Wa Baraka Wa Sallam, dariRobbul Alamain, Allah Yang Maha Esa melalui perantara malaikat Jibril Alaihis Salaam. Murid-Murid Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta

Mbah Munawir dan Para Putra serta Menantu

Selama berdakwah dan menyebarkan ilmu agama, Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir telah menghasilkan murid yang menjadi ulama besar di masanya dan penerus perjuangan dakwah islamiyahnya. Diantara sekian banyak murid beliau yang kemudian menjadi penerus perjuangan dakwah beliau adalah sebagai berikut:

Sayyidi Asy-Syaikh Arwani Amin, Kudus, Seorang ulama besar nusantara yang juga ahli Quran mumpuniSayyidi Asy-Syaikh Zuhdi, Nganjuk, Kertosono,Sayyidi Asy-Syaikh Umar, Ponpes al-Muayyad, Mangkuyudan, SoloSayyidi Asy-Syaikh Badawi, Kaliwungu, SemarangSayyidi Asy-Syaikh Noor, Tegalarum, KertosonoSayyidi Asy-Syaikh Umar, Kempek, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Murtadha, Buntet, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Muntaha, Pesantren al-Asyariyyah, Kalibeber, WonosoboSayyidi Asy-Syaikh Ma'sum, Gedongan, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Abu Amar, kroyaSayyidi Asy-Syaikh Syathibi, Kyangkong, KutoarjoSayyidi Asy-Syaikh Suhaimi, Ponpes Tamrinus Shibyan, Benda, BumiayuSayyidi Asy-Syaikh Hasbullah, Wonokromo, YogyakartaSayyidi Asy-Syaikh Anshor, Pepedan, BumiayuSayyidi Asy-Syaikh Muhyiddin, Jejeran, YogyakartaSayyidi Asy-Syaikh Mahfudz, Purworejodan lain sebagainyaKaromah Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak

Diantara berbagai macam karamah yang dimiliki oleh KH. Munawir krapyak adalah beliau mampu menghafal keseluruhan al-Quran yang 30 juz hanya dalam jangka waktu 70 hari. Sebagian riwayat lainnya mengatakan hanya 40 hari. Kisahnya, ketika beliau sampai di tanah suci dan belajar ilmu agama di sana, beliau menulis surat kepada sang ayah yang isinya minta restu karena ingin menghafal al-Quran. Namun sang ayah belum mengizinkannya dan berniat akan mengirimkan surat balasan. Namun belum sempat surat balasan dikirim, sang ayah sudah mendapatkan surat kedua dari KH. Munawwir yang isinya memberitahukan bahwa ia sudah terlanjur hafal 30 juz. 

Saat berusia 10 tahun, KH. Munawwir berangkat untuk mondok nyantri kepada Sayyidi Asy-Syaikh Kholil Bangkalan, Madura. Sesampainya di sana, saat iqamah shalat selesai dikumandangkan, tiba-tiba saja Kyai Kholil tidak bersedia menjadi imam. Beliau kemudian berkata, "Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (yakni KH. Munawir). Walaupun ia masih kecil tetapi ahli qiraat."

Mbah KH. Said Gedongan Cirebon (kakek KH. Mahrus Aly Lirboyo) sering mengirim uang kepada KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta ketika mondok di Makkah, padahal beliau berdua tidak saling kenal. Hal tersebut didasarkan atas kekaguman Mbah Said saat mendengar kabar bahwa ada orang Jawa yang rela susah payah mondok di Makkah demi menghafal Qur’an.

Ketika Mbah Munnawwir pulang ke tanah air, beliau segera mencari alamat Mbah Said untuk bersilaturrahmi dan mengucapkan terima kasih. Dan di Cirebon pada saat yang sama, Mbah Said menginstruksikan kepada santri-santrinya untuk segera wudlu. Dan beliau berkata: “Kalo memang Kyai Munawwir wali, maka hari ini beliau akan datang ke sini. Dan santri yang tidak punya wudlu dilarang salaman dengan orang suci.” Subhanalloh, Mbah Munawwir hari itu juga datang di Gedongan Cirebon.

Beberapa tahun kemudian, melihat potensi & kemampuan Mbah Munawwir, Keraton Jogja mengangkat beliau menjadi seorang qodli (hakim). Disamping menjadi qodli, beliau juga membuka pengajian di lingkungan keraton. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak jamaah pengajian beliau sehingga tempat yang tersedia tidak lagi muat. Hingga akhirnya Mbah Said memberikan sebidang tanah wakaf kepada Mbah Munawwir yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Krapyak.

Sosok Mbah Munawwir yang terkenal sebagai pembawa Qur’an ke Tanah Jawa tidak lepas dari figur ayahanda beliau yang bernama KH. Abdulloh Rosyad. Pada waktu muda, Mbah Rosyad punya keinginan kuat untuk menghafal Qur’an. Itu dibuktikan, ketika beliau menghafal dibarengi dengan riyadloh/ tirakat berendam di sungai (mungkin agar tidak ngantuk). Berkali-kali beliau melakukan tirakat tersebut dan suatu hari, beliau mendengar suara: “Hafalkan semampumu, karena itu bagianmu. Dan tidak usah berkecil hati, kamu akan diberi keturunan yang ahli Qur’an.” 

Karomah lainnya adalah terkait dengan Kyai Aqil Sirodj dari Kempek Cirebon. Tatkala beliau masih berusia delapan tahun, beliau belum bisa mengucapkan bunyi huruf R dengan jelas. Namun setelah meminum air bekas cucian tangan KH. Munawir sebagain sarana tabarukan, langsung saja beliau dapat mengucapkan bunyi huruf R dengan sangat jelas. 

KH.R. Abdul Qadir Munawir: Putra KH. Munawir

Peristiwa menarik pernah dialami oleh murid KH Moenawir, sewaktu beliau disuruh oleh istri Mbah Moenawir untuk meminta sejumlah uang kepada Mbah Moenawir yang akan digunakan sebagai keperluan belanja sehari hari, KH Moenawir selalu merogoh sejadahnya dan diserahkan uang tersebut kepada Muridnya, padahal selama ini muruid-muridnya hanya tahu bahwa sepanjang waktu Mbah Moenawir hanya duduk saja di serambi masjid sambil mengajar alquran.

Adalah KH. Abdullah Anshar dari Gerjen, Sleman. Tatakala beliau mengetahui wafatnya Mbah Munawir, beliau menangis sejadi-jadinya dan mengatakan kalau sudah tidak kerasan lagi hidup di dunia fana ini tanpa adanya Mbah Munawir. Akhirnya, dengan izin Allah, setelah pulang ke rumah, beliau langsung menyusul pulang ke rahmatullah.

Karomah lainnya adalah KH. Moenawir Mampu menghatamkan Al-Quran hanya dalam Satu rakaat sholat, dan sebagai orang awan mungkin itu Mustahil dilakukan tapi bagi KH Moenawir itu mampu Kedisiplinan KH.Moenawir dalam mengajar Alquran kepada murid-muridnya sangat ketat bahkan pernah muridnya membaca Fatihah sampai dua tahun diulang-ulang karena menurut KH Moenawir belum Tepat bacaannya baik dari segi Makhrajnya maupun tajwidnya, maka tak heran bila murid murid beliau menjadi Ulama-ulama yang Huffadz ( hapal quran) dan mendirikan Pesantren Tahfizul quran seperti Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an kudus (KH.Arwani Amin) , Pesantren Al Muayyad solo ( KH Ahmad Umar) dll.

Wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak

Tak ada manusia yang abadi selamanya hidup di alam raya ini. Begitu pula dengan KH. Munawwir Krapyak juga pada akhirnya harus menghadapi salah satu takdir ilahi yaitu kematian. Setelah berjuang menyebarkan dakwah islam dan mencetak generasi qurani selama puluhan tahun, beliau kemudian sakit selama kurang lebih 16 hari. Pada awalnya sakit yang beliau rasakan hanyalah sakit ringan, namun makin lama makin parah, dan tiga hari terakhir sangat parah hingga beliau tidak bisa tidur. Selama beliau sakit itu, selalu berkumandanglah bacaan surah Yasin sebanyak 41 kali yang dibaca oleh jamaah pengajian dan para santri secara bergantian. Satu rombongan selesai membaca, maka rombongan lainnya menyusul, demikian tidak ada putusnya.

KH.R. Najib Abdul Qadir: Pengasuh Ponpes Krapyak Saat ini

Akhirnya, Mbah Munawir Krapyak meninggal bakda jumat tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 masehi, di kediaman beliau di komplek Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ketika menghembuskan nafas beliau yang terakhir, beliau ditunggui oleh salah seorang putri beliau yang bernama Nyai Jamalah. Setelah dikafani, shalat jenazah pun diadakan sebagai bentuk doa dan penghormatan bagi beliau. Lantaran banyak pelayat yang datang dan mendoakan maka shalat jenazah dilakukan bergiliran hingga berpuluh-puluh kali. Imam Shalat jenazah kala itu diantaranya adalah Sayyidi Asy-Syaikh Ma'shum (Suditan Lasem), Sayyidi Asy-Syaikh Manshur (Popongan, Klaten), Sayyidi Asy-Syaikh Raden Asnawi (Bendan, Kudus), dan lain sebagainya.

Setelah wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawir Krapyak, perjuangan beliau diteruskan oleh murid-murid dan putra putri beliau.  Sebelumnya almarhum KH. Munawir berwasiat agar keluarga yang melanjutkan perjuangan dakwah beliau adalah 2 orang putra dan 4 orang menantu. Namun karena beberapa udzur, maka perjuangan pesantren peninggalan beliau dikawal oleh tiga tokoh keluarga beliau yang amat terkenal dan merupakan ulama besar nusantara di masanya, yaitu:

Sayyidi Asy-Syaikh Romo KH. Raden Abdullah Afandi, yang merupakan putra beliau dari Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, yogyakarta. Beliau ditunjuk khusus untuk menangani pengajian al-Quran dan menngurusi hubungan pesantren dengan masyarakat luar pesantren. Beliau wafat pada tanggal 1 januari tahun 1968 Masehi.Sayyidi Asy-Syaikh Raden Abdul Qadir, putra KH. Munawir dari buah pernikahannya dengan Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, Yogyakarta. Di masa kepemimpinan beliau, pada tahun 1953, para santri penghafal al-Quran dihimpun dalam satu wadah yakni madrasah Huffadz, yang dibantu oleh KH. Mufid Masud (menantu KH. Munawir), Kyai nawawi (menantu KH. Munawwir), dan KH. Hasyim Yusuf (Nganjuk).Sayyidi Asy-Syaikh Ali Ma'shum (menantu KH. Munawir asal Lasem, suami dari Nyai. Hajah Hasyimah). Mbah Ali, begitu beliau dipanggil, telah membantu perjuangan dakwah pesantren Krapyak sejak tahun 1943 masehi. Dalam penyelenggaraannya, beliau menerapkan beberapa sistem pengajian,yakni sistem madrasi (klasik) dan sistem kuliyah, yang masing-masing dilengkapi dengan pengajian individual atau dikenal dengan sistem sorogan. Mbah Ali Ma'shum wafat pada tahun 1989 masehi dan pernah menjadi orang nomor 1 dalam jam'iyyah nahdlatul ulama. Demikianlah sekelumit biografi agung Sayyidi Asy-Syaikh Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari. Semoga bisa bermanfaat dan kita bisa mendapatkan pelajaran berharga yang dapat ditemui dalam diri seorang penghafal dan penjaga serta pengamal al-Quran al-karim. 

Admin di Depan Makam Sayyidi Asy-Syaikh Munawir Krapyak

DAFTAR PUSTAKA

Disarikan dari berbagai sumber, khususnya dari buku yang berjudul "Manaqibus Syaikh: KH. M. Moenauwir Almarhum: Pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta" yang diterbitkan oleh Majelis Ahlein (keluarga besar Bani Munawwir) Pesantren krapyak, Keluaran tahun 1975 masehi.

Disadur pula dari buku karya Romo Yai M. Mas'udi Fathurrohman yang berjudul "Romo Kyai Qodir: Pendiri Madrasatul Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta". 

BIOGRAFI KH MUNAWIR KRAPYAK

Apabila kita berbicara mengenai ulama nusantara yang ahli al-Quran maka tidak bisa dilepaskan dengan sosok KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta. Nama beliau telah tercatat dengan menggunakan tinta emas dan abadi dalam hati para penghafal dan pecinta al-Quran di bumi pertiwi ini. Nama beliau harum semerbak mewangi dan telah menghantarkan ribuan para penghafal al-Quran menjadi orang-orang yang siap lahir batin menjadikan al-QUran sebagai pedoman dan wirid hidup mereka. Lalu bagaimanakah sebenarnya perjalanan hidup KH. Munawwir krapyak ini? Pada kesempatan kali ini admin majelis walisongo akan membagikan sekilas mengenai biografi beliau yang sangat indah ini semoga bermanfaat bagi para pembaca budiman dimanapun anda berada. 

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad

Cucu Seorang Pejuang Besar

Sosok KH. Munawir Krapyak tidak bisa lepas dari kebesaran nama Kyai Hasan Bashari atau lebih dikenal dengan Kyai Hasan Besari. Kyai Hasan Besari adalah merupakan ajudan pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasional yang sangat berjasa dalam usaha penumpasan penjajah di muka bumi pertiwi ini. 

Pada waktu hidupnya, Kyai Hasan Besari ini critanya ingin menjadi seorang ulama yang hafal al-Quran dan karenanya beliau melakukan riyadhah dan berusaha keras lahir batin untuk menghafal al-Quran. Namun beliau suatu ketika mendapatkan ilham bahwa yang akan menjadi ahli al-Quran adalah anak cucu beliau. Demikian pula anaknya yang bernama KH. Abdullah Rosyad yang juga berjuang dengan riyadhah dan kedisiplinan tinggi untuk menghafal al-Quran. Bahkan ketika di tanah suci Makkah selama 9 tahun beliau riyadhah untuk menghafalkan al-Quran, namun beliau mendapatkan ilham bahwa yang akan dianugerahi hafal al-Quran adalah anak cucunya.

Di kemudian hari KH. Abdullah Rosyad ini memiiki sebelas orang anak dari empat orang istri. Dari kesebelas orang anak ini salah satunya adalah KYai Haji Muhamad Munawwir yang merupakan anak beliau dari buah pernikahan beliau dengan salah satu istri bernama Nyai Khadijah dari Bantul, Yogyakarta.

Belajar Ilmu Agama 

Sejak kecil, KH. Munawir telah mendapatkan gemblengan pendidikan agama yang sangat ketat dari ayahnya sendiri yaitu KH. Abdullah Rosyad. Bahkan saking ketatnya beliau dituntut untuk bisa khatam dalam waktu seminggu sekali. Sang ayah dengan semangat besar senantiasa memberikan suntikang semangat dan dukungan baik materi maupun imateri pada beliau. Saking semangatnya, sang ayah akan memberikan hadiah sebesar Rp. 2,50 jika dalam satu minggu Munawwir kecil dapat mengkhatamkan al-Quran sekali. Padahal uang segitu di masa beliau cukup banyak untuk bisa digunakan membeli sesuatu. Dan memang pada akhirnya target khatam seminggu sekali dapat dilaksanakan oleh Munawir kecil dengan sangat baik, dan bahkan terus berlangsung secara istiqamah walaupun beliau tidak mendapatkan hadiah uang itu lagi.

Setelah dirasa cukup belajar kepada sang Ayah, KH. Munawir kecil kembali meneruskan perjalanan thalabul ilminya kepada para ulama besar baik itu ulama nusantara maupun ulama timur tengah. Adapun ulama nusantara yang pernah menjadi tempat beliau nyantri dan menimba ilmu adalah sebagai berikut:

Syaikh Abdurrahman Watucongol, MagelangSyaikh Sholeh Darat, SemarangSyaikh Kholil Bangkalan, MaduraSyaikh Abdullah, Kanggotan BantulPada tahun 1888 masehi beliau melanjutkan rihlah thalabul ilminya ke tanah suci,dan di sana beliau belajar kepada para ulama besar setempat, diantaranya kepada:
Syaikh SyarbiniSyaikh Abdullah SanqaraSyaikh Ibrahim HuzaimiSyaikh MukriSyaikh Abdus SyakurSyaikh MusthofaSyaikh Yusuf Hajar, yang merupakan guru beliau dalam qiraah sab'ah

 Suatu ketika KH. Munawwir pernah bertemu dengan nabiyullah Khidir alaihis salam dan mendapatkan doa secara langsung dari beliau. Ceritanya, beliau di masa thalabul ilminya di tanah suci sedang dalam suatu perjalanan dari makkah menuju Madinah. Di suatu tempat di Rabigh beliau berumpa dengan seorang pak tua yang tidak beliau kenal. Pak tua tersebut kemudian mengajak berjabat tangan dan lantas  mendoakan beliau semoga beliau menjadi seorang hafidzul quran wa hamilul quran sejati. Menurut Syaikh Arwani Amin, Kudus, orang tua yang menjabat tangan dan mendoakan KH. Munawwir itu adalah Nabiyullah Khidir Alaihis Salaam.

Riyadhah KH. Munawir dalam Menghafal dan Menjaga al-Quran

KH. Munawir merupakan sosok ulama yang sangat tekun dan istiqamah dalam menjaga dan mengamalkan al-Quran. Terkait dengan usaha beliau menjaga hafalan al-Quran maka beliau melakukan riyadhah yang sangat ketat dan sulit untuk ditiru oleh generasi sekarang ini. Beliau pernah melakukan riyadhah yaitu harus mengkhatamkan al-Quran sebanyak satu kali setiap 7 hari 7 malam. Riyadhah ini beliau lakukan selama 3 tahun. Setelah itu beliau meningkatkan kualitas riyadhahnya dengan cara mengkhatamkan al-Quran setiap 3 hari 3 malam sekali. Hal ini dilakukan selama 3 tahun. Setelah itu ditingkatkan lagi riyadhahnya dengan mengkhatamkan al-Quran 1 hari 1 malam sekali selama tiga tahun juga. Terakhir, beliau tingkatkan riyadhahnya dengan membaca al-Quran selama 40 hari tiada henti. 

Adapun waktu yang biasa beliau gunakan untuk mewiridkan al-Quran adalah setiap selesai shalat ashar dan setiap bakda subuh. Selain itu, dimanapun beliau berada baik di rumah maupun sedang bepergian, senantiasa beliau itu tidak pernah lepas dari mewiridkan al-Quran. Walaupun beliau seorang hafidz al-Quran sejati, namun beliau masih saja sering terlihat menggunakan mushaf untuk dibaca karena memang seperti itulah cara seorang hafidz al-Quran dalam menjaga hafalannya, jangan mentang-mentang sudah hafal kemudian meninggalkan mushaf suci al-Quran. Itu merupakan kesombongan yang tidak boleh ada sedikitpun dalam diri para penghafal al-Quran.

Beliau secara istiqamah mengkhatamkan al-Quran seminggu sekali tepatnya pada hari kamis sore beliau melakukan khataman al-Quran. Amalan ini beliau lakukan sejak beliau masih berusia 15 tahun hingga beliau wafat. 

Apabila KH. Munawir sedang menghadapi peristiwa ataupun masalah yang menyangkut umat/santri, maka beliau biasanya segera mengumpulkan para santri untuk berdoa bersama. Biasanya beliau memerintahkan para santri untuk bersama-sama mewiridkan shalawat nariyah sebanyak 4444 kali dan membaca surah Yasin sebanyak 41 kali. 

Sosok KH. Munawir merupakan sosok yang amat istiqamah dalam beribadah. Lebih-lebih terkait ibadah shalat fardhu, maka beliau senantiasa menggunakan awal waktu untuk melaksanakannya. Begitu pula dengan shalat sunnah seperti shalat sunnah rawatib juga tidak pernah beliau tinggalkan. Beliau juga merupakan ulama yang senantiasa melanggengkan shalat sunnah witir, shalat sunnah isyraq, shalat sunnah dhuha, dan shalat sunnah tahajud. Beliau juga sangat menekankan pentingnya untuk berziarah kubur, mendoakan orang tua, ulama dan kaum muslimin yang telah lebih dahulu wafat dan bertabarukkan dengan mereka. Bahkan saking pentingnya, beliau mewajibkan para santri untuk istiqamah ziarah kubur setiap kamis sore. 

Di mata beliau, seorang penghafal al-Quran yang sejati adalah sebagai berikut:

Senantiasa bertakwa kepada Allah ta'alaMampu shalat tarawih dengan hafalan al-Quran sebagai bacaan surahnyaBeliau sangat mengangungkan al-Quran dan mushaf suci al-Quran. Beliau termasuk orang yang sangat ketat dalam hal ini, hingga beliau hanya akan memberikan undangan haflah khotmil quran kepada orang-orang yang kalau memegang mushaf al-Quran senantiasa dalam keadaan suci dari najis dan hadats.

Ulama Besar yang Penuh Kesederhanaan

Sosok KH. Munawwir juga merupakan sosok yang terkenal rapi dan bersih serta senantiasa menampilkan kesederhanaan hidup. Beliau senantiasa menggunakan imamah dan penutup kepala seperti sorban, peci, maupun kedua-duanya. Kalau berpakaian maka beliau menggunakan pakaian yang bersih, suci, dan sederhana, seperti jubah, sarung, serban senantiasa bersih. Apabila bepergian beliau menggunakan jasnhitam, serban hijau, sarung dan alas kaki. 

Beliau tidak pernah makan hingga kenyang, terlebih di waktu bulan ramadhan, maka beliau berbuka dan sahur ala kadarnya, cukup dengan satu cawan nasi ketan untuk sekali makan. Hal ini tentu saja akan bermanfaat bagi tubuh, karena mengonsumsi makanan dengan wajar akan menjadikan tubuh sehat dan proporsional, berbeda apabila terlalu kenyang maka akan menjadikan tidak bersemangat, mengantuk, dan pada akhirnya tidak bisa istiqamah beribadah kepada Allah. 

Keluarga KH. Munawwir Krapyak

KH. Munawwir Krapyak hidup di tengah-tengah keluarga besar beliau yang ahli al-Quran. Beliau memiliki lima orang istri yang mana istri ke lima beliau nikahi sesudah wafatnya istri beliau yang pertama. Dan berikut ini adalah nama-nama istri beliau:

Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, YogyakartaNyai Haji Sukistiyah, Wates, YogyakartaNyai Salimah, Wonokromo, Bantul, YogyakartaNyai Rumiyah, Jombang, Jawa TimurNyai Khodijah, Knggotan, Gondowulung, Bantul, YogyakartaDari Nyai Raden Ajeng Mursydah ini beliau memiliki lima orang putra putri, yaitu:

Abdullah Siroj, wafat saat masih kecilKhodijah, wafat pada saat masih kecilUmatulloh, wafat pada saat masih kecilKH. Raden Abdullah AfandiKH. Raden Abdul Qadir Munawwir (lahir sabtu legi, pukul 17.00 WIB, tanggal 11 Dzulqa'dah 1338 H/24 Juli 1919 Masehi. Dari putra bungsu beliau inilah nantinya lahir seorang ulama besar, ahli al-Quran, hafidzul Quran, hamilul Quran di masa ini, yaitu Romo KH. Raden Muhammad Najib  bin Romo KH. Raden Abdul Qadir bin KH. Munawwir Krapyak, yang sekarang menjadi pengasuh utama Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.Silsilah Sanad al-Quran Qiraah Imam Ashim dari Riwayat Hafs dan Thariq Ubaid bin al-Shabbah

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Karim al-Hajj Umar al-Badri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ismail, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ahmad Ar-Rasyidi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Musthafa bin Abdurrahman al-Azmiri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Hijazi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ali bin Sulaiman al-Manshuri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Sulthan al-Muzaahi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Saifuddin Athaillah al-Fadholi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah  Syakhadzah al-Yamani, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Nashiruddin Ath-Thablawi, dariSayyidi Asy-Syaikh Zakariyya al-Anshari, dariSayyidi Al-Imam Ahmad As-Suyuthi, dariSayyidi al-Imam Abul Khair Muhammad bin Muhammad ad-Dimasyqi al-Masyhur (yang terkenal) dengan nama Syaikh al-Jazairi, dariSayyidi al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Khaliq al-Mishri  asy-Syafi'i, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Syuja' bin Salim, bin Ali bin Musa al-Abbasi al-Mishri, dariSayyidi al-Imam Abul Qasim asy-Syathibi al-Andalusi asy-Syafi'i, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Hudzail, dariSayyidi al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Najah al-Andalusi, dariSayyidi al-Imam al-Hafidz Abu Amr Usman bin Said ad-Dani, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Thahir, dariSayyidi al-Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin al-Fairuzani al-Asynani, dariSayyidi al-Imam Abu Muhammad Ubaid bin Ash-Shabah bin Shabih al-Kufi, dariSayyidi al-Imam Abu Amr Hafs bin Sulaiman bin al-Mughirah al-Asadi al-Kufi, dari SAYYIDI AL-IMAM 'AASHIM BIN ABI AL-JUNUD, dariSayyidi Al-Imam Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib bin Rabi'ah as-Salma, dariSayyid Usman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dari Sayyidina Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'Anhu, dan Sayyidina Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ubay bin Ka'ab Radhiyallahu 'Anhu, dariSayyidina Wa Maulana Wa Habibina Rasulillah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa 'Alaa aalihi wa Shahbihi Wa Baraka Wa Sallam, dariRobbul Alamain, Allah Yang Maha Esa melalui perantara malaikat Jibril Alaihis Salaam. Murid-Murid Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta

Mbah Munawir dan Para Putra serta Menantu

Selama berdakwah dan menyebarkan ilmu agama, Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir telah menghasilkan murid yang menjadi ulama besar di masanya dan penerus perjuangan dakwah islamiyahnya. Diantara sekian banyak murid beliau yang kemudian menjadi penerus perjuangan dakwah beliau adalah sebagai berikut:

Sayyidi Asy-Syaikh Arwani Amin, Kudus, Seorang ulama besar nusantara yang juga ahli Quran mumpuniSayyidi Asy-Syaikh Zuhdi, Nganjuk, Kertosono,Sayyidi Asy-Syaikh Umar, Ponpes al-Muayyad, Mangkuyudan, SoloSayyidi Asy-Syaikh Badawi, Kaliwungu, SemarangSayyidi Asy-Syaikh Noor, Tegalarum, KertosonoSayyidi Asy-Syaikh Umar, Kempek, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Murtadha, Buntet, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Muntaha, Pesantren al-Asyariyyah, Kalibeber, WonosoboSayyidi Asy-Syaikh Ma'sum, Gedongan, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Abu Amar, kroyaSayyidi Asy-Syaikh Syathibi, Kyangkong, KutoarjoSayyidi Asy-Syaikh Suhaimi, Ponpes Tamrinus Shibyan, Benda, BumiayuSayyidi Asy-Syaikh Hasbullah, Wonokromo, YogyakartaSayyidi Asy-Syaikh Anshor, Pepedan, BumiayuSayyidi Asy-Syaikh Muhyiddin, Jejeran, YogyakartaSayyidi Asy-Syaikh Mahfudz, Purworejodan lain sebagainyaKaromah Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak

Diantara berbagai macam karamah yang dimiliki oleh KH. Munawir krapyak adalah beliau mampu menghafal keseluruhan al-Quran yang 30 juz hanya dalam jangka waktu 70 hari. Sebagian riwayat lainnya mengatakan hanya 40 hari. Kisahnya, ketika beliau sampai di tanah suci dan belajar ilmu agama di sana, beliau menulis surat kepada sang ayah yang isinya minta restu karena ingin menghafal al-Quran. Namun sang ayah belum mengizinkannya dan berniat akan mengirimkan surat balasan. Namun belum sempat surat balasan dikirim, sang ayah sudah mendapatkan surat kedua dari KH. Munawwir yang isinya memberitahukan bahwa ia sudah terlanjur hafal 30 juz. 

Saat berusia 10 tahun, KH. Munawwir berangkat untuk mondok nyantri kepada Sayyidi Asy-Syaikh Kholil Bangkalan, Madura. Sesampainya di sana, saat iqamah shalat selesai dikumandangkan, tiba-tiba saja Kyai Kholil tidak bersedia menjadi imam. Beliau kemudian berkata, "Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (yakni KH. Munawir). Walaupun ia masih kecil tetapi ahli qiraat."

Mbah KH. Said Gedongan Cirebon (kakek KH. Mahrus Aly Lirboyo) sering mengirim uang kepada KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta ketika mondok di Makkah, padahal beliau berdua tidak saling kenal. Hal tersebut didasarkan atas kekaguman Mbah Said saat mendengar kabar bahwa ada orang Jawa yang rela susah payah mondok di Makkah demi menghafal Qur’an.

Ketika Mbah Munnawwir pulang ke tanah air, beliau segera mencari alamat Mbah Said untuk bersilaturrahmi dan mengucapkan terima kasih. Dan di Cirebon pada saat yang sama, Mbah Said menginstruksikan kepada santri-santrinya untuk segera wudlu. Dan beliau berkata: “Kalo memang Kyai Munawwir wali, maka hari ini beliau akan datang ke sini. Dan santri yang tidak punya wudlu dilarang salaman dengan orang suci.” Subhanalloh, Mbah Munawwir hari itu juga datang di Gedongan Cirebon.

Beberapa tahun kemudian, melihat potensi & kemampuan Mbah Munawwir, Keraton Jogja mengangkat beliau menjadi seorang qodli (hakim). Disamping menjadi qodli, beliau juga membuka pengajian di lingkungan keraton. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak jamaah pengajian beliau sehingga tempat yang tersedia tidak lagi muat. Hingga akhirnya Mbah Said memberikan sebidang tanah wakaf kepada Mbah Munawwir yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Krapyak.

Sosok Mbah Munawwir yang terkenal sebagai pembawa Qur’an ke Tanah Jawa tidak lepas dari figur ayahanda beliau yang bernama KH. Abdulloh Rosyad. Pada waktu muda, Mbah Rosyad punya keinginan kuat untuk menghafal Qur’an. Itu dibuktikan, ketika beliau menghafal dibarengi dengan riyadloh/ tirakat berendam di sungai (mungkin agar tidak ngantuk). Berkali-kali beliau melakukan tirakat tersebut dan suatu hari, beliau mendengar suara: “Hafalkan semampumu, karena itu bagianmu. Dan tidak usah berkecil hati, kamu akan diberi keturunan yang ahli Qur’an.” 

Karomah lainnya adalah terkait dengan Kyai Aqil Sirodj dari Kempek Cirebon. Tatkala beliau masih berusia delapan tahun, beliau belum bisa mengucapkan bunyi huruf R dengan jelas. Namun setelah meminum air bekas cucian tangan KH. Munawir sebagain sarana tabarukan, langsung saja beliau dapat mengucapkan bunyi huruf R dengan sangat jelas. 

KH.R. Abdul Qadir Munawir: Putra KH. Munawir

Peristiwa menarik pernah dialami oleh murid KH Moenawir, sewaktu beliau disuruh oleh istri Mbah Moenawir untuk meminta sejumlah uang kepada Mbah Moenawir yang akan digunakan sebagai keperluan belanja sehari hari, KH Moenawir selalu merogoh sejadahnya dan diserahkan uang tersebut kepada Muridnya, padahal selama ini muruid-muridnya hanya tahu bahwa sepanjang waktu Mbah Moenawir hanya duduk saja di serambi masjid sambil mengajar alquran.

Adalah KH. Abdullah Anshar dari Gerjen, Sleman. Tatakala beliau mengetahui wafatnya Mbah Munawir, beliau menangis sejadi-jadinya dan mengatakan kalau sudah tidak kerasan lagi hidup di dunia fana ini tanpa adanya Mbah Munawir. Akhirnya, dengan izin Allah, setelah pulang ke rumah, beliau langsung menyusul pulang ke rahmatullah.

Karomah lainnya adalah KH. Moenawir Mampu menghatamkan Al-Quran hanya dalam Satu rakaat sholat, dan sebagai orang awan mungkin itu Mustahil dilakukan tapi bagi KH Moenawir itu mampu Kedisiplinan KH.Moenawir dalam mengajar Alquran kepada murid-muridnya sangat ketat bahkan pernah muridnya membaca Fatihah sampai dua tahun diulang-ulang karena menurut KH Moenawir belum Tepat bacaannya baik dari segi Makhrajnya maupun tajwidnya, maka tak heran bila murid murid beliau menjadi Ulama-ulama yang Huffadz ( hapal quran) dan mendirikan Pesantren Tahfizul quran seperti Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an kudus (KH.Arwani Amin) , Pesantren Al Muayyad solo ( KH Ahmad Umar) dll.

Wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak

Tak ada manusia yang abadi selamanya hidup di alam raya ini. Begitu pula dengan KH. Munawwir Krapyak juga pada akhirnya harus menghadapi salah satu takdir ilahi yaitu kematian. Setelah berjuang menyebarkan dakwah islam dan mencetak generasi qurani selama puluhan tahun, beliau kemudian sakit selama kurang lebih 16 hari. Pada awalnya sakit yang beliau rasakan hanyalah sakit ringan, namun makin lama makin parah, dan tiga hari terakhir sangat parah hingga beliau tidak bisa tidur. Selama beliau sakit itu, selalu berkumandanglah bacaan surah Yasin sebanyak 41 kali yang dibaca oleh jamaah pengajian dan para santri secara bergantian. Satu rombongan selesai membaca, maka rombongan lainnya menyusul, demikian tidak ada putusnya.

KH.R. Najib Abdul Qadir: Pengasuh Ponpes Krapyak Saat ini

Akhirnya, Mbah Munawir Krapyak meninggal bakda jumat tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 masehi, di kediaman beliau di komplek Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ketika menghembuskan nafas beliau yang terakhir, beliau ditunggui oleh salah seorang putri beliau yang bernama Nyai Jamalah. Setelah dikafani, shalat jenazah pun diadakan sebagai bentuk doa dan penghormatan bagi beliau. Lantaran banyak pelayat yang datang dan mendoakan maka shalat jenazah dilakukan bergiliran hingga berpuluh-puluh kali. Imam Shalat jenazah kala itu diantaranya adalah Sayyidi Asy-Syaikh Ma'shum (Suditan Lasem), Sayyidi Asy-Syaikh Manshur (Popongan, Klaten), Sayyidi Asy-Syaikh Raden Asnawi (Bendan, Kudus), dan lain sebagainya.

Setelah wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawir Krapyak, perjuangan beliau diteruskan oleh murid-murid dan putra putri beliau.  Sebelumnya almarhum KH. Munawir berwasiat agar keluarga yang melanjutkan perjuangan dakwah beliau adalah 2 orang putra dan 4 orang menantu. Namun karena beberapa udzur, maka perjuangan pesantren peninggalan beliau dikawal oleh tiga tokoh keluarga beliau yang amat terkenal dan merupakan ulama besar nusantara di masanya, yaitu:

Sayyidi Asy-Syaikh Romo KH. Raden Abdullah Afandi, yang merupakan putra beliau dari Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, yogyakarta. Beliau ditunjuk khusus untuk menangani pengajian al-Quran dan menngurusi hubungan pesantren dengan masyarakat luar pesantren. Beliau wafat pada tanggal 1 januari tahun 1968 Masehi.Sayyidi Asy-Syaikh Raden Abdul Qadir, putra KH. Munawir dari buah pernikahannya dengan Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, Yogyakarta. Di masa kepemimpinan beliau, pada tahun 1953, para santri penghafal al-Quran dihimpun dalam satu wadah yakni madrasah Huffadz, yang dibantu oleh KH. Mufid Masud (menantu KH. Munawir), Kyai nawawi (menantu KH. Munawwir), dan KH. Hasyim Yusuf (Nganjuk).Sayyidi Asy-Syaikh Ali Ma'shum (menantu KH. Munawir asal Lasem, suami dari Nyai. Hajah Hasyimah). Mbah Ali, begitu beliau dipanggil, telah membantu perjuangan dakwah pesantren Krapyak sejak tahun 1943 masehi. Dalam penyelenggaraannya, beliau menerapkan beberapa sistem pengajian,yakni sistem madrasi (klasik) dan sistem kuliyah, yang masing-masing dilengkapi dengan pengajian individual atau dikenal dengan sistem sorogan. Mbah Ali Ma'shum wafat pada tahun 1989 masehi dan pernah menjadi orang nomor 1 dalam jam'iyyah nahdlatul ulama. Demikianlah sekelumit biografi agung Sayyidi Asy-Syaikh Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari. Semoga bisa bermanfaat dan kita bisa mendapatkan pelajaran berharga yang dapat ditemui dalam diri seorang penghafal dan penjaga serta pengamal al-Quran al-karim. 

Admin di Depan Makam Sayyidi Asy-Syaikh Munawir Krapyak

DAFTAR PUSTAKA

Disarikan dari berbagai sumber, khususnya dari buku yang berjudul "Manaqibus Syaikh: KH. M. Moenauwir Almarhum: Pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta" yang diterbitkan oleh Majelis Ahlein (keluarga besar Bani Munawwir) Pesantren krapyak, Keluaran tahun 1975 masehi.

Disadur pula dari buku karya Romo Yai M. Mas'udi Fathurrohman yang berjudul "Romo Kyai Qodir: Pendiri Madrasatul Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta". 

Selasa, 15 Agustus 2017

BIOGRAFI KH Arwani Kudus

BIOGRAFI KH. M. ARWANI AMIN KUDUS

Selain dikenal dengan sebutan Kota Kretek, Kudus juga dikenal sebagai Kota Religius atau lebih medasar lagi dikenal dengan sebutan Kota Santri. Pasalnya, banyak di antara santri yang menuntut ilmu di kota yang kharismatik yang menjadi panutan masyarakat sekitar Kudus. Di antara sekian banyak ulama di kota Kudus banyak ulama di kota Kudus yang menjadi tauladan bagi masyarakat adalah beliau al-Maghfurlah KH. M. Arwani Amin.

Sekitar lebih 100 meter di sebelah selatan Masjid Menara Kudus, tepatnya di Desa Madureksan, Kerjasan, dulu tersebutlah pasangan keluarga shaleh yang sangat mencintai al-Qur’an. Pasangan keluarga ini adalah KH. Amin Sa’id dan Hj. Wanifah. KH. Amin Sa’id ini sangat dikenal di Kudus kulon terutama di kalangan santri, karena beliau memiliki sebuah toko kitab yang cukup dikenal, yaitu toko kitab al-Amin. Dari hasil berdagang inilah, kehidupan keluarga mereka tercukupi.

Yang menarik adalah, meski keduanya (H. Amin Sa’id dan istrinya) tidak hafal al-Qur’an, namun mereka sangat gemar membaca al-Qur’an. Kegemarannya membaca al-Qur’an ini, hingga dalam seminggu mereka bisa khatam satu kali. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh orang kebanyakan, bahkan oleh orang yang hafal al-Qur’an sekalipun.
*Kelahiran KH. M. Arwani Amin Said*

KH. M. Arawani Amin Said dilahirkan pada hari Selasa Kliwon pukul 11.00 siang tangga l5 Rajab 1323 H bertepatan dengan 5 September 1905 M di kampung Kerjasan Kota Kudus Jawa Tengah. Ayah beliau bernama H. Amin Said dan ibunya bernama Hj.Wanifah.

Sebenarnya nama asli beliau adalah Arwan, akan tetapi setelah beliau menunaikan ibadah haji yang pertama namanya diganti menjadi Arwani. Dan hingga wafat beliau dikenal memiliki nama lengkap sebagai KH. M. Arawani Amin Said dan panggilan akrabnya adalah Mbah Arwani Kudus.

Arwan adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Kakaknya yang pertama seorang perempuan bernama Muzainah. Sementara adik-adiknya secara berurutan adalah Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Muflikhak dan Ulya. Dari kedua belas ini, ada tiga yang paling menonjol, yaitu Arwan, Farkhan dan Ahmad Da’in, ketiga-tiganya hafal al-Qur’an.

Dari sekian saudara KH. M. Arwani Amin, yang dikenal sama-sama menekuni al-Qur’an adalah Farkhan dan Ahmad Da’in. Ahmad Da’in, adiknya Mbah Arwani ini bahkan terkenal jenius, karena beliau sudah hafal al-Qur’an terlebih dahulu daripada Mbah Arwan yakni pada umur 9 tahun. Ia bahkan hafal Hadits Bukhori Muslim dan menguasai Bahasa Arab dan Inggris. Kecerdasan dan kejeniusan Da’in inilah yang menggugah Mbah Arwani dan adiknya Farkhan, terpacu lebih tekun belajar.

Arwan kecil hidup di lingkungan yang sangat taat beragama (religius). Kakek dari ayahnya adalah salah satu ulama besar di Kudus, yaitu KH. Imam Haramain. Sementara garis nasabnya dari ibu, sampai pada pahlawan nasional yang juga ulama besar Pangeran Dipenegoro yang bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.

*Kehidupan Keluarga KH. M. Arwani Amin*
Ayahanda Mbah Arwani yaitu H. Amin Said adalah seorang kiyai yang cukup disegani dan dihormati oleh masyarakat disekitar beliau tinggal. Meskipun ayah dan bunda beliau tidak hafal al-Qur’an, namun tempat tinggal beliau dikenal sebagai rumah al-Qur’an, karena setiap pekan mereka selalu mengkhatamkan al-Qur’an.

Istri beliau bernama Ibu Nyai Hj. Naqiyul Khud. Beliau menikah pada tahun 1935 M dimana pada saat itu status beliau adalah seorang santri dari pondok pesantren al-Munawir Krapyak Yogyakarta. Ibu Naqi adalah putri dari H. Abdul Hamid, seorang pedagang kitab. Tokonya sekarang masih ada,bahkan semakin berkembang. Beliau memiliki empat orang anak yaitu Ummi dan Zukhali Uliya (meninggal saat masih bayi) serta KH. M. A. Ulin Nuha Arwani dan KH. M. A. Ulil Albab Arwani.

*Masa Menuntut Ilmu KH. M. Arwani Amin Said*
KH. M. Arwani Amin dan adik-adiknya sejak kecil hanya mengenyam pendidikan di madrasah dan pondok pesantren. Arwani kecil memulai pendidikannya di Madrasah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan, sebelah utara Menara Kudus. Beliau masuk di madrasah ini sewaktu berumur 7 tahun. Madrasah ini merupakan madrasah tertua yang ada di Kudus yang didirikan oleh Syarikat Islam (SI) pada tahun 1912. Salah satu pimpinan madrasah ini di awal-awal didirikannya adalah KH. Abdullah Sajad.

Setelah sudah semakin beranjak dewasa, akhirnya memutuskan untuk meneruskan ilmu agama Islam ke berbagai pesantren di tanah Jawa, seperti Solo, Jombang, Jogjakarta dan sebagainya. Dari perjalanannya berkelana dari satu pesantren ke pesantren itu, talah mempertemukannya dengan banyak kiai yang akhirnya menjadi gurunya (masyayikh).

Adapun sebagian guru yang mendidik KH. M. Arwani Amin diantaranya adalah KH. Abdullah Sajad (Kudus), KH. Imam Haramain (Kudus), KH. Ridhwan Asnawi (Kudus), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. Muhammad Manshur (Solo), KH. M. Munawir (Yogyakarta) dan lain-lain.

*Kepribadian KH. M. Arwani Amin Said*
Selama berkelana mencari ilmu baik di Kudus maupun di berbagai pondok pesantren yang disinggahinya, KH. M. Arwani Amin dikenal sebagai pribadi yang santun dan cerdas karena kecerdasannya dan sopan santunnya yang halus itulah, maka banyak kiainya yang terpikat. Karena itulah pada saat mondok KH. M. Arwani Amin sering dimintai oleh kiainya membantu mengajar santri-santri lain. Lalu memunculkan rasa sayang di hati para kiainya.

Beliau hidup di lingkungan masyarakat santri yang sangat ketat dalam menghayati dan mengamalkan agama. Oleh karena itu wajar saja jika beliau tumbuh menjadi seorang yang memiliki perangai halus, sangat berbakti kepada kedua orang tua, mempunyai solidaritas yang tinggi, rasa setia kawan dan suka mengalah tapi tegas dalam memegang prinsip.

Beliau dikaruniai kecerdasan dan minat yang kuat dalam menuntut ilmu. Pada masa remajanya dihabiskan untuk menuntut ilmu mengembara dari pesantren ke pesantren. Tidak kurang dari 39 tahun hidup beliau dihabiskan untuk menuntut ilmu dari kota ke kota yang dimulai dari kotanya sendiri yaitu Kudus. Kemudian dilanjutkan ke Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren Tebu Ireng Jombang, Pesantren al-Munawir Krapyak Yogyakarta dan diakhiri di Pesantren Popongan Solo.

Sekitar tahun 1935, KH. Arwani Amin pun melaksanakan pernikahan dengan salah satu seorang putri Kudus, yang kebetulan cucu dari guru atau kiainya sendiri yaitu KH. Abdullah Sajad. Perempuan sholehah yang disunting oleh beliu adalah ibu Naqiyul Khud.

Dari pernikahannya dengan ibu Naqiyul Khud ini, KH. M. Arwani Amin diberi dua putrid dan dua putra. Putri pertama dan kedua beliau adalah Ummi dan Zukhali (Ulya), namun kedua putri beliau ini menginggal dunia sewaktu masih bayi.

Yang tinggal sampai kini adalah kedua putra beliau yang kelak meneruskan perjuangan KH. M. Arwani Amin dalam mengelola pondok pesantren yang didirikannya. Kedua putra beliau adalah KH. Ulin Nuha (Gus Ulin) dan KH. Ulil Albab Arwani (Gus Bab). Kelak, dalam menahkodai pesantren itu, mereka dibantu oleh KH. Muhammad Manshur. Salah satu khadam KH. M. Arwani Amin yang kemudian dijadikan sebagai anak angkatnya.

*perjuangan KH. M. Arwani Amin Said*
Beliau mengajarkan al-Qur’an pertama kali sekitar tahun 1942 di Masjid Kenepan Kudus yaitu setamat beliau nyantri dari pesantren al-Munawir Krapyak Yogyakarta. Pada periode ini santri-santri beliau kebanyakan berasal dari luar kota Kudus. Seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit santri beliau semakin bertambah banyak dan bukan hanya dari Kudus dan sekitarnya, tapi ada yang berasal dari luar propinsi bahkan dari luar pulau Jawa. Kemudian beliau membangun sebuah pondok pesantren yang diberi nama Yanbu’ul Qur’an yang berarti Sumber al-Quran. Pondok pesantren ini didirikan pada tahun 1393 H/1979 M.

KH. M. Arwani Amin meninggalkan sebuah kitab yang diberi nama Faidh al-Barakat fi as-Sabi’a Qira’at.

Semasa hidupnya beliau juga mengajarkan Thariqat Naqsabandiyah Kholidiah yang pusat kegiatannya bertempat di mesjid Kwanaran. Beliau memilih tempat ini karena suasana di sekeliling cukup sepi dan sejuk. Disamping itu tempatnya dekat perumahan dan sungai Gelis yang airnya jernih untuk membantu penyediaan air untuk para peserta kholwat. KH. M. Arwani amin juga pernah menjadi pimpinan Jam’iyah Ahli ath-Thariqat al-Mu’tabarah yang didirikan oleh para kyai pada tanggal 10 Oktobrr 1957 M. Dan dalam Mu’tamar NU 1979 di Semarang nama tersebut diubah menjadi Jam’iyyah Ahl ath-Thariqat al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN).

*Kelebihan KH. M. Arwani Amin Said*
KH. M. Arwani Amin dikenal sebagai seorang ulama yang sangat tekun dalam beribadah. Dalam melaksanakan sholat wajib beliau selalu tepat waktu dan senantiasa berjamaah meskipun dalam keadaan sakit. Kebiasaan tersebut sudah beliau jalani sejak berada di pesantren.

Sewaktu masih belajar Qiraat Sab’ah pada KH. Munawir di Krapyak yang pelajarannya dimulai pada pukul 02.00 dinihari sampai menjelang Shubuh beliau sudah siap pada pukul 12.00 malam. Dan sambil menunggu waktu pelajaran dimulai beliau manfaatkan untuk melaksanakan sholat sunnah dan dzikir. Kebiasaan tersebut tetap berlanjut setelah beliau kembali dan bermukim di Kudus.

Biasanya beliau mulai tidur pukul 20.00 WIB dan bangun pukul 21.00 WIB. Kemudian dilanjutkan melaksanakan sholat sunnah dan dzikir. Apabila sudah lelah kemudian tidur lagi kira-kira selama satu sampai dua jam kemudian bangun lagi untuk melaksanakan sholat dan dzikir, begitu setiap malamya sehingga bila dikalkulasi beliau hanya tidur dua sampai tiga jam setiap malamnya

KH. M. Arwani Amin Said dikenal oleh msyarakat di sekitarnya sebagai seorang ulama yang memiliki kelebihan yang luar biasa. Banyak yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang wali,beberapa santrinya mengatakan bahwa KH.Arwani Amin memiliki indra keenam dan mengetahui apa yang akan terjadi dan melihat apa yang tidak terlihat.

Konon, menurut KH. Sya’roni Ahmadi, kelebihan Mbah Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat orangtuanya yang senang membaca al-Qur’an. Dimana orangtuanya selalu menghatamkan membaca al-Qur’an meski tidak hafal.

Selain barokah orantuanya yang cinta kepada al-Qur’an, KH. Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru pada ulama-ulama.

Selama menjadi santri, Mbah Arwani selalu disenangi para kyai dan teman-temannya karena kecerdasan dan kesopanannya. Bahkan, karena kesopanan dan kecerdasannya itu, KH. Hasyim Asy’ari sempat menawarinya akan dijadikan menantu.

Namun, Mbah Arwani memohon izin kepada KH. Hasyim Asy’ari bermusyawarah dengan orang tuanya. Dan dengan sangat menyesal, orang tuanya tidak bisa menerima tawaran KH. Hasyim Asy’ari, karena kakek Mbah Arwani (KH. Haramain) pernah berpesan agar ayahnya berbesanan dengan orang di sekitar Kudus saja.Akhirnya, Mbah Arwani menikah dengan Ibu Nyai Naqiyul Khud pada 1935. Bu Naqi adalah puteri dari H. Abdul Hamid bin KH. Abdullah Sajad, yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri.

*Murid KH. M. Arwani Amin Said*
Ribuan murid telah lahir dari pondok yang dirintis KH. M. Arwani Amin tersebut. Banyak dari mereka yang menjadi ulama dan tokoh. Sebut saja diantara murid-murid KH. M. Arwani Amin yang menjadi ulama adalah:

1) KH. Sya’roni Ahmadi (Kudus)
2) KH. Hisyam (Kudus)
3) KH. Abdullah Salam (Kajen)
4) KH. Muhammad Manshur
5) KH. Muharror Ali (Blora)
6) KH. Najib Abdul Qodir (Jogja)
7) KH. Nawawi (Bantul)
8) KH. Marwan (Mranggen)
9) KH. A. Hafidz (Mojokerto)
10) KH. Abdullah Umar (Semarang)
11) KH. Hasan Mangli (Magelang)

*KH. M. Arwani Amin Said Berpulang ke Rahmatullah*

Dengan keharuman namanya dan berbagai pujian dan sanjungan penuh rasa hormat dan ta’dzim atas kealimannya, beliu wafat pada taggal 25 Rabiul Akhir tahun 1415 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober tahun 1994 M dalam usia 92 tahun (dalam hitungan Hijriyah). Beliau dimakamkan di komplek Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus.

https://kumpulanbiografiulama.wordpress.com/2013/04/01/biografi-kh-m-arwani-amin-kudus/

Minggu, 06 Agustus 2017

Biografi Syeikh Mahfudz Termas

( SYEIKH MAHFUDZ AT-TERMASI / 1285-1338 H/1868-1920 M)

Beliau adalah Al Allamah Al Muhaddits Al Musnid Al Faqih Al Ushuli As Syeikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah bin Abdul Mannan bin Abdullah bin Ahmad at-Tarmasi/Termas. Lahir di Tarmas (Termas) Jawa Tengah pada 12 Jumadil Ula 1285 H/31 Agustus 1868 M, dan bermukim di Mekah sampai beliau wafat pada 1 Rajab 1338 H/ 20 Mei 1920 M, dikala ayah beliau bermukim di Makkah. Beliau diasuh oleh ibu dan para pamanya.

Memperoleh ilmu dasar fiqih di usia muda dari beberapa ulama Jawa, dan beliau juga menghafal Al Qur’an. Kemudian ayah beliau, Al Allamah Al Faqih Syeikh Abdullah At Tarmusi memanggilnya untuk belajar di Makkah. 

Pada tahun 1291 beliau berangkat menemui sang ayah dan bermukim di Makkah untuk membaca beberapa kitab di hadapan beliau. Kemudian Syeikh Mahfudz kembali ke Jawa dan berguru kepada Al Allamah Syeikh Shalih bin Umar As Samarani (Semarang), juga untuk membaca beberapa kitab.

Kemudian,Syeikh Mahfudz melakukan rihlah thalab al ilmi untuk kedua kalinya ke Makkah dan mengambil berbagai disiplin ilmu dari para ulama besarnya. Diantara para guru Syeikh Mahfudz adalah Al Allamah As Sayyid Abi Bakr bin Muhammad Syatha Al Makki, yang merupakan pijakan Syeikh Mahfudz dalam periwayatan hadits. 

Syeikh Mahfudz juga menyimak banyak kitab hadits dan musthalah-nya dari Al Allamah Al Muhaddits As Sayyid Husain bin Muhammad Al Habsyi Al Makki yang dikenal sebagai “Ibnu Mufti” (Anak Mufti). Beliau juga banyak membaca kitab hadits dan ilmunya di hadapan Al Allamah Syeikh As Syafi’iyah Makkah Syeikh Muhammad Sa’id Ba Bashil. Beliau juga memperoleh ilmu qira’at 14 dari Al Allamah Syeikh Muhammad As Syarbini Ad Dimyathi.

Dalam menuntut ilmu, beliau benar-benar bermujahadah dengan terjaga di malam hari, hingga terlihat kelebihan beliau dalam hadits dan ilmu-ilmunya, juga menguasai fiqih dan ushulnya, serta ilmu qira’at. Sehingga para guru beliau memberikan izin untuk mengajar. Syeikh Mahfudz mengajar di Bab As Shafa Masjid Al Haram dan di rumah tempat beliau tinggal.

Dari beliau, keluar para ulama baik, yang berasal dari tanah Jawa maupun Arab. Mereka adalah Kyiai Raden Dahlan As Samarani (Semarang), Kyiai Muhammad Dimyathi At Tarmusi (Termas), Kyiai Khalil Al Lasimi (Lasem), Kyiai Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbani (Jombang), Kyiai Muhammad Faqih bin Abdi Al Jabbar Al Maskumbani (Maskumambang), Kyiai Baidhawi, Kyiai Abdu Al Muhaimin putra Abdul Aziz Al Lasimi, Kyiai Nawawi Al Fasuruwani (Pasuruan), Kyai Abbas Buntet As Syirbuni (Cirebon), Kyiai Abdul Muhith bin Ya’kub As Sidarjawi As Surabawi (Sidoarjo-Surabaya).

Yang juga meriayatkan dari Syeikh Mahfudz adalah As Syeikh Muhammad Al Baqir bin Nur Al Jukjawi (Jogja), Kyiai Ma’shum bin Ahmad Al Lasimi (Lasem), Kyiai Shiddiq bin Abdillah Al Lasimi (Lasem), Kyiai Abdul Wahhab bin Hasbullah Al Jumbani (Jombang).

Sedangkan para ulama Arab dan lainnya yang mengambil periwayatan dari Syeikh Mahfudz adalah Al Muhaddits Syeikh Habibullah As Syanqithi, Muhaddits Al Harmain As Syeikh Hamdan, Syeikh Ahmad Al Mukhalilati, Syeikh Umar bin Abi Bakr Ba Junaid Al Makki, Syeikh Muhammad Abdul Baqi Al Ayubi Al Laknawi.

Beliau mengajar dengan menggunakan bahasa Arab fuskha (fasih) sebagai pengantar, walau terkadang beliau campur dengan bahasa Jawa. Karya-karya beliau antara lain, 

-Al Manhaj Dzawi An Nadhr fi Syarh Alfiyah Al Atsar, 
-Al Mauhibah Dzi Al Fadhl fi Hasyiyah Muqaddimah Ba Fadhal (4 jilid), 
-Nail Al Ma’mul Hasyiyah Ghayah Al Wushul ala Lubb Al Ushul (3 jilid), 
-Is’af Al Mathali’ bi Syarh Al Badr Al Lami’ Nadzmi Jam’i Al Jawami’ (2 jilid) 
-Hasiyah Takammulah Al Minhaj Al Qawim (1 jilid), 
-Ghunyah At Thalabah bi Syarh At Thayyibah fi Al Qaira’at Al Asyrah (1 jilid), 
-Kifayah Al Mustafid li Ma Ala Asanid, yang berisi periwayatan Syeikh Mahfudz dalam semua disiplin ilmu dan lainnya.

Kelebihan beliau dikenal di berbagai kalangan, dari ketawadhu’an hingga kebaikan akhlak. Beliau juga tidak terlibat hal-hal yang tidak berguna. Datang dari Jawa ke Tanah Suci dengan perbekalan seadanya. Beliau juga dikenal sebagai alim yang wara’. Rumah beliau banyak didatangi para pencari ilmu, baik untuk sekedar mengucap salam maupun untuk mencari ilmu.

Beliau wafat di Makkah di tanggal 1 Rajab, sesaat sebelum adzan Maghrib hati Ahad, malam Senin tahun 1336 H. Jenazah beliau diantar banyak orang, dan dimakamkan di pemakaman Al Ma’la. Beliau meninggalkan satu anak, yakni Kyiai Muhammad bin Mahfudz. Semoga Allah merahmati beliau.

Hidayatullah.com–Banyak kalangan Azhariyun menilai bahwa Syeikh Dr. Rif’at Fauzi Abdul Muthallib merupakan salah satu ulama musnid Mesir. Ulama yang perpustakaanya selalu terbuka untuk para pencari ilmu ini, juga telah menyebutkan silsilah sanad beliau untuk kitab Al Umm dan Ar Risalah, hingga Imam As Syafi’i. Demikian pula yang berlaku pada kitab Musnad As Syafi, yang semuanya beliau tahqiq dan takhrij hadits-haditsnya.

Mengenai Syeikh Rif’at ini, salah satu kawan pernah berkisah bahwa saat ia berkunjung ke perpustakaan beliau yang terletak di Hay Sabi’, Madinah An Nashr, Kairo. Kala itu Syeikh Rif’at sempat menunjukkan kitab karya Syeikh At Tarmusi, dengan mengatakan,” Ini karya orang Indonesia…”. Seakan-akan beliau ikut kagum dan ingin menunjukkan bahwa ulama Indonesia juga hebat, serta mendorong agar para Azhariyun Indonesia bisa meniru jejak Syeikh Mahfudz At Tarmusi, selaku ahlu al isnad.

Syeikh Mahfudz At Tarmusi memang pantas untuk dikagumi, apalagi bagi kalangan ahlu al isnad, yang mengatahui dari siapa saja beliau memperoleh ilmu dan dari kitab apa saja. Tidak hanya dalam bidang hadits saja, untuk kitab-kitab tafsir, fikih, qira’at, nahwu-sharaf, akhlak-tashawuf, bahkan sampai amalan dzikir, semuanya berasal dari para ulama yang memilki sanad bersambung hingga penulis kitab-kitab tersebut.

Berikut ini nama-nama kitab yang beliau pelajari dari berbagai disiplin ilmu yang seluruhnya bersanad hingga penulisnya, yang ditulis oleh Syeikh Al Muahfudz dalam karya beliau yang berjudul, Kifayah Al Mustafid li Ma ‘Ala min Al Asanid.

Tafsir

Syaikh Mahfudz At Tarmusi telah mengkaji beberapa kitab tafsir seperti Tafsir Al Jalalain, yang merupakan karya Imam Jalaluddin Al Mahalli (864 H) dan Imama Jalaluddin As Suyuthi (911 H), Tafsir Al Baidhawi (691 H), Tafsir Imam Al Fakhr Ar Razi (626 H), Tafsir Al Baghawi (516 H), Tafsir Al Khatabi As Syarbini (977 H), juga Ad Dur Al Mantsur karya Imam As Suyuthi. Semua kajian Syeikh Mahfudz At Tarmusi terhadap kitab-kitab tersebut bersanad yang sampai kepada para penulisnya.

Hadits

Kitab-kitab hadits yang pernah dipelajari oleh Syeikh Mahfudz melingkupi Al Jami’ As Shahih yang ditulis oleh Imam Al Bukhari (256), yang beliau simak 4 kali khatam dari Syeikh As Sayyid Abu Bakr Syatha. Beliau juga memiliki jalan periwayatan lain yang lebih pendek tentang kitab ini dari As Sayyid Husain bin Muhammad Al Habsyi. Selain Shahih Al Bukhari, beliau juga telah mempelajari Shahih Muslim (261 H), Sunan Abu Dawud (275 H), Sunan At Tirmidzi (279 H), Sunan An Nasa`i (303 H), Sunan Ibnu Majah (273 H), dengan bersanad.

Sanad hadits Syeikh Mahfudz juga sampai kepada para ulama mujtahid madzhab yang membukakan hadits. Diantaranya adalah Al Muwaththa’ Imam Malik (179 H) riwayat Yahya bin Yahya, Musnad Imam As Syafi’I (204 H), Musnad Abu Hanifah (200 H), Musnad Ahmad (241 H), Mukhtashar Ibnu Abi Jamrah (695 H), As Syifa` Qadhi Iyadh (544 H), As Syamail At Tirmidzi, Al Arba’in An Nawawiyah (676 H), Al Jami’ As Saghir karya Imam As Suyuthi, Al Mawahib karya Al Qasthalani (923 H). Dalam kitab sejarah, kitab As Sirah Al Halabiyah karya Ali Al Halabi (1044 H) serta As Sirah karya As Sayyid Ahmad Dahlan (1304 H), Syeikh Mahfudz pun memiliki sanadnya.

Fiqih

Beberapa kitab fikih yang dikaji oleh Syeikh At Tarmusi juga sanadnya menyambung kepada penulis. Di antaranya adalah Tuhfah Al Muhtaj dan karya Ibnu Hajar Al Haitami (964 H) lainnya. Selain itu ada juga Nihayah Al Muhtaj dan lainnya dari karya Imam Ar Ramli, Al Iqna dan Mughni Al Muhtaj karya Khatib As Syarbini. Periwayatan kitab-kitab karya Imam An Nawawi (676 H) dan Imam Ar Rafi’i (623 H) juga beliau miliki.

Ilmu Alat

Kitab-kitab ilmu alat yang dipilajari Syeikh Mahfudz juga diambil dari para ulama yang sanadnya sampai kepada penulis. Dari kitab-kitab tersebut adalah Matn Al Ajurrumiyah, karya Muhammad As Shanhaji (723 H), Al Alfiyah Ibnu Malik (672 H), Mughni Al Labib karya Ibnu Hisyam (761 H), Kitab Sibawaih (180 H), As Shihah karya Imam Al Jauhari (393 H), Al Qamus karya Fairuz Abadi (816 H), Talhis Al Miftah karya Khatib Jalal Ad Din Al Qazwini (739 H), Arus Al Afrah karya Bahauddin As Subki (763 H), Uqud Al Juman karya Imama As Suyuthi, As Syathibiyah (590 H), Syarh Al Baiquniyah, karya Az Zurqani (1122 H), serta Syarh An Nukhbah karya Ibnu Hajar serta Alfiyah Al Iraqi (806 H) yang disyarah oleh Ibnu Hajar.

Ilmu Ushul dan Aqidah

Kitab-kitab ilmu ushul fiqih yang sanadnya dimiliki oleh Syeikh At Tarmusi juga bersambung kepada para penulisnya antara lain, Al Waraqat karya Imam Al Haramain (478 H), Syrah Mukhtashar Ibnu Hajib karya Adhad Ad Din Al Iji (756 H), Minhaj Al Wushul karya Imam Al Baidhawi, serta Jam’u Al Jawami’ karya Taj Ad Din As Subki (771 H). Sedangkan dalam kitab aqidah seperti Al Jauharah karya Imam Al Laqani dan Al Umm Al Barahin karya Imam As Sanusi (895 H), Syeikh At Tarmusi juga memiliki sanadnya.

Akhlak dan Tashawuf

Untuk Kitab-kitab yang berkenaan dengan tashawuf dan akhlak seperti Al Hikam karya Ibnu Athaillah As Sakandari (709 H), Ar Risalah Al Qusyairiyah (475 H), Minhaj Al Abdidin dan Al Ihya’ karya Imam Al Ghazali (505 H), Awarif wa Al Ma’arif karya Imam As Suhrawardi (632 H), Syeikh Mahfudz At Tarmusi juga memiliki sanadnya hingga para penulisnya.

Tidak hanya kitab, namun amalan-amalan juga sampai kepada para ulama, salah satunya adalah hizb An Nawawi yang diamalkan oleh Imam An Nawawi.

Masih banyak kitab lainnya dimiliki periwayatannya oleh Syeikh Mahfudz At Tarmusi, karena banyak kitab yang tidak beliau sebutkan judulnya, namun beliau cukupkan dengan penulisnya, dengan menyebutkan semisal, “seluruh karya Imam Al Ghazali”.

Membukukan Guru dan Periwayatan, Tradisi para Ulama

Dengan demikian, di samping menjaga tradisi para salaf dalam mencari ilmu, memperoleh ilmu dengan cara mengambil dari guru yang memiliki sanad sampai ke penulis kitab, meminimalkan kesalahan pemahaman menganai isi kitab tersebut.

Sedangkan Syeikh Mahfudz At Tarmusi mencatat sanad yang beliau miliki, juga dalam rangka meneladani para ulama sebelumnya. Sebagaimana juga Imam An Nawawi menjelaskan bahwa hendaknya pengajar ilmu dan para pencarinya memahami sanad, dinilai buruk bagi mereka yang jahil terhadapnya, karena para guru manusia dalam ilmu merupakan bapak-bapak mereka dalam dien, yang menyambungkan antara dia dan Rabb Al Alamin. Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar secara marfu,” Ilmu adalah dien dan shalat adalah dien. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu dan bagaimana kalian melaksanakan shalat tersebut. Sesungguhnya kalian ditanya pada hari kiamat.” (Riawayat Ad Dailami)

Dalam tradisi para ulama, buku yang ditulis seorang ulama untuk menjelaskan para guru dan periwayatan dari mereka, disebut sebagai tsabat, dengan bentuk plural atsbat. Yang kemungkinan berasal dari kata at tsabt, yang bermakna hujjah. Dengan demikian kitab tersebut merupakan hujjah bagi penulisnya, karena disebutkan di dalamnya para guru dan sanadnya. Hal ini berlaku bagi ahlu al masyriq, yakni mereka yang hidup di belahan bumi bagian timur. Sedangkan kalangan ahlu al maghrib (penduduk dunia bagian barat) menyebutnya sebagai fahras.

#Tambihun : 

Tulisan ini disadur dari “Kifayah Al Mustafid li Ma ‘Ala min Al Asanid“, karya Al Muhaddist Al Musnid Al Faqih As Syeikh Muhammad Mahfudz bin Abdillah At Tarmusi Al Jawi Al Indunisi, terbitan Dar Al Basyair.Seorang ulama besar Al-Jawi (Melayu, Sumatra) yang sebagai muslimin di tanah suci Mekkah hingga akhir hayatnya. 

Ulama ini memeiliki reputasi internasional didunia Islam. Termashur sebagai Muhaddist (Ahli Hadist), Musaid (Mata rantai sanad hadist), faqih (Ahli Fiqih), Ahli Ushul Fiqih, dan Muqri (Ahli Qira’ati) serta Mursyid Thariqat Syadizliyah, sebagai Imam dan Guru di Masjid haram Mekkah hingga akhir hayatnya, juga ulama mullaif ( pengarang kitab), kitab yang produktif untuk disiplin ilmu keislamaan dan beberapa harganya tergolong monumental dan bermutu tinggi.

Syeikh mahfudz Al-Tarmasi (Al- Turmusi, Al-Tarmasi) nama aslinya Muhammad Mahfudz. Riwayat hidupnya semasa kecil hingga dewasa ditulisnya sebagai informasi penting tertera pada kitabnya Muhibbah Dzil Fadhal jilid 4, disebutkan Ia dilahirkan di Desa Tremas, kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Kresidenan Madiunm(Provinsi Jawa Timur), pada Tanggal 12 Jumadil Awal 1285 H bertepatan 31 Agustus 1868. 

Syeikh Mahfudz dilahirkan tahun 1285 H/1842 M, namun bila dihitung dengan cermat tahun 1285 H semasa dengan tahun 1868 H. Ayahnya KH. Abdullah adalah pengasuh pondok pesantren Tremas yang didirikan oleh kakeknya, KH. Abdul Manan (nama kecilnya R. Bagus Darto/ R. Bagus Sudarot ) tahun 1830, setelah menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo asuhan KH. Khasan Besari, KH. Abdul Manan putra R. Demang Dipomenggolo yang di ambil menantu pamannya Demang Tremas R. Ngabei Honggowijoyo dan mereka keturunan kethok Jenggot punggawa kesultanan Surakarta yang ditugaskan membuka lahan (babat alas) Pacitan shingga menjadi perkampungan yang semakin ramai.

Muhammad Mahfudz pertama kali mengaji kepada ayahhandanya dipesantren Tremas, sampai khatam beberapa kitab (fathul Muin, fathul Wahab, Syarah Syarqowi, Minhajul Qowim, Syarah Ibnu Qosim al Ghazali) dan sebagian tafsir jalalain. Lantas Ia berguru kepada Syeikh Soleh As-Samarami (Kiyai Sholeh darat Semarang) untuk kitab-kitab tafsir Jalalain (2 kali Khatam), Syarah Al-Hikam (2 kali Kahatam), dan kitab-kitab ilmu falaq yakni syrah al al-Mardim dan wasilah ath-Thalab.

Setelah menginjak remaja Muhammad Mahfudz yang cerdas ini bersama adiknya Dimyathi bin Abdullah dikirimkan oleh ayahandanya ke tanah suci Mekkah. Ia memperdalam ilmu-ilmu keislaman dengan mengaji kepada ulama-ulama disana baik ulama Timut Tengah maupun dari kalangan Al-Jawi (berasal dari dunia Melayu) diantara guru-gurunya adalah:

1) Syeikh Ahmad al-Munsyawi (ahli Qira’at asal Ikrit), mengaji kitab Al-Qur’an Qiratul ’ashin fi riwayati khalaf bima tayasaraa min at-tajwid dan Syarah Al-Allamah ibnu Al-Qasih ala As-satibiyah.

2) Syaeikh Amr bin baslat Asy-Syami (ahli Fiqih asal Syiria) mengaji kitab Syarah Syadzuru’.

3) Syeikh Mushtofa bin Muhammad bin Sulaiman al-Afifi (ahli ilmu alat dan Usul Fiqih) Ia mengaji kitab Mahlli ’ala jam’ul jawami dan Mughni labib.

4) Imam Al-Hasab Al-Wara’ Al- Nasib Sayid Husain Muhammad Al-Habsyi (ahli Hadist) untuk kitab Shoheh Bukhori dab Shoheh Muslim.

5) Syeikh As’ad bin Muhammad Babsil Al-Hadrami (ahli Fiqih, Mufti Makkah) untuk Syarah Uqud Al Imam Asy-Syifa’an li al-Qodiyah

6) Syeikh Muhammad As-Sarbini Ad-Dimyathi (ahli Fiqih dan Qira’at asal Mesir) untuk kitab Syarah Ibnu Al – Qosih’ala As Sahidiyah, Syarah Ad-Durar al – Mudhi’ah Tibyan Al-Nasyri fi Qira’ah al-asyri, Raudhoh Nadhir al-Muthawalli, Ithkaf Al-Basyari fi Qira’ah Al-Qur’an, Al-Iddah li Syatibiyah dan Tafsir Al- Baidhowi

7) Syeikh Abu bakar bin Muhammad syatho’ Ad-Dimyathi (Syeikh Bakar Syatho’) sebagai guru Utamanya di Masjid Al-Haram. Ia mengaji kitab I’anah at-Thalibin karya gurunya tersebut dan kitab-kitab lain. Lebih dari itu ia mendapatkan Ijazah (legitimasi) dari Syeikh Bakar As-Syatho’ sebagai Musnid atau penyampai mata rantai atau sanad Hadist Bukhori matan ke 23 setelah gurunya sebagai matan ke 22.

Selain belajar kepada ulama tersebut, Syeikh Mahfudz Teremasi juga berguru kepada ulama lain di Makkah diantaranya Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan (Mufti Mekkah) dan Sayid Ahmad Az-Zawawi, sedangkan dari kalangan ulama Al-Jawi ia berguru kepada Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Syeikh Wan Ahmad Al-Fathani, sahabat-sahabatnya di Mekkah yang terkenal antara lain tak terkecuali (Syeikh Muhammad Yusuf Al-kamali), Syeikh wan daud bin Musthofa Al-Fathani (asal Fatani, Thailand) dan Syeikh Abdullah fahim (Mufti pulau pinang, Malaysia).

Syeikh Musthofa juga pernah belajar di madinah yakni kepada Syeikh Sayid Muhammad Amin bin Ahmad Ridwan al- Madani, dan dari ulama ini ia mendapat Ijazah Dalailul khoirot. Al-Burdah, Al Ahzab, Al- Auliyat Al-Aljami, al-Mutawalli dan kitab Al- Muwatho’ karangan Imam Malik bin Anas. Dan dari sini pula, yakni Syeikh Sayid Muhammad Amin bin Ahmad Ridwan al- Madani penulis, Muhtadi Hasbi mendapatkan sanad Dala-il disamping ada sanad dari Syeikh Ahmad Yasin Al-Fadani.

Ketika sedang asyiknya mendalami ilmu-ilmu keislamaan, Ayahandanya yang sudah Uzur, memanggil pulang Syeikh Mahfudz dan Syeikh Dimyathi. Ia menyuruh adiknya pulang kampung untuk meneruskan kepemimpinan di pesantren Tremas dan ia minta izin ayahandanya untuk melanjutkan tugas belajarnya di Mekkah.

Syeikh mahfudz At-termasi tambah dan berkembangnya sebagai ulama besar dan merupakan kebanggaan mukmin al-Jawi sebagai Imam dan Guru di Masjidil al-haram mekkah yang muridnya dari beberapa Negara tidak terbatas dari Nusantara. 

Ulama ini terkenal 'alim 'allamah dalam berbagai disiplin ilmu, sehingga Syeikh Yasin bin Isa Al Fadani Al-makki (1917-1991) memberinya gelar kehormatan Syeikh Mahfudz sabagai Al-Alamah, Al-Muhaddist, Al-Musnid, Al-Faqih, Al-Ushuli, dan Al-Muqri (sangat alim, ahli ilmu hadist, ahli ilmu fiqih, ahli ilmu mata rantai sanad hadist, ahli ushul fiqih, dan ahli qira’ati). 

Gelar ini pantas di sandang oleh ulama Jawi asal Tremas Pacitan ini, terbukti pada karya-karya tulisannya beberapa jilid, kesemuanya berbahasa arab dan mata bahasanya yang sedemikian tinggi terutama untuk kitabnya Muhibbah Dzil Fadhal makky Dzawin Nadhar.

Syeikh Mahfudz sebagai mursid hadist Bukhori matan ke 23 dan secara berturut-turut mata rantai tersebut mulai Imam Al-Bukhori sampai kepadanya adalah sebagai berikut:

1. Imam al Bukhori (Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah (194-256 H/810-870 M).

2. Imam Al-Hafidz Al-Hujja’

3. Imam Muhammad bin Yusuf bin Matar al-Farbasi.

4. Imam Abdullah bin Ahmad.

5. Syeikh Abdul Hasan Abdurahman bin Mudhofar Ad-Daud

6. Imam Al-Hambali.

7. Imam Al-Hasan bin Al Mubaraq Az-Zubaidi.

8. Syeikh Ahmad bin Thalib Al-Hajar.

9. Syeikh Ibrahim bin Muhammad

10. Syeikh Ahmad bin Hajar Al-Asqolani

11. Syeikh Islam Zakaria Al-Ashari Al-Hafidz

12. Syeikh Muhammad bin Ahmad al Ghaisi

13. Syeikh Salim bin Muhammad As-Sauhari

14. Syeikh Muhammad bin Alauddin Al-Babili

15. Syeikh Abdullah bin Salam Al-Bashri

16. Syeikh Salim bin Abdullah bin Salim al Bashri

17. Syeikh Muhammad Ad-Dafri

18. Syeikh isa bin Muhammad Al-Barawi

19. Syeikh Muhammad bin Ali Asy-Sarwani

20. Syeikh Usman bin Hasan Ad-Dimyathi

21. Syeikh Ahmad bin Zaini

22. Syeikh Abu Bakar bin Muhammad Syatho’ ad-Dimyathi

23. Syeikh Mahfudz bin Abdullah At-Termasi. 

Syeikh Mahfudz memberikan ijazahnya kepada Syeikh Hasyim Asy’ari asal Jombang sebagai mata rantai ke 24 yang berhak menyampaikan hadis Bukhori yang memenuhi kelayakan.

Syeikh Mahfudz at-Termasi termasuk ulama penulis yang Produktif dan Kharismatik dan berkulitas tinggi dalam bidang Fiqih, Hadist, Nahwu/alat, dan disiplin ilmu keislamaan lainnya.

Karya-karya ilmiyahnya inilah yang membuat nama Syeikh Mahfudz dikenal dibeberapa belahan dunia Islam, terutama ulama yang pernah belajar di Saudi Arabia maupun Mesir, diantara karya Ilmiyah ulama berasal Tremas ini berjudul:

Muhibbah Dzil fadlah Hasyiah Syarah Mukhtasar Bafadhal terdiri 4 Jilid besar (2339 halaman. Yang merupakan syarah (komentar) dari kitab terkenal Tahfah Al-Muhtaj karangan Syeikh ibnu Hajar al-Haitami (908-947 H/1503-1566 M), terkenal dengan kitab Muhibbah (tulis 1315-1319 H).

Al-Sigoyah al-Mudhiyyah asani kutub al-ashhab al-syafi’iyah(1313 H) merupakan kitab fiqih dalam lingkup ulama-ulama Syafi’iyah.

Nail al-Ma’mul bi hasyiat ghayat al-wushul fi ilmi al-ushul, merupakan kitab ushul fiqih terdiri 3 jilid .

Hasyiah Tahmilah al-Minhaj al-Qawim ila al-faraidh; merupakan karya penyempurnaan ilmu faraid/hukum waris

Minhaj Dzawi al-Nadhar bi Syarhi maudzamat al-Atsar (1329) setelah 300 halaman lebih berisi syarah terhadap kitab maudzumat al-atsar karyanya syeikh abdurahman as-Suyyuthi.

Al –Mishah al-Khairiyyah fi Arbain Hadisan min Ahadist khair al-Bariyyah kumpulan 40 hadist pilihan seperti arbain Nawawi

Al-Khali’ah al-Fikriyah fi Syarhi al Mukah al-Kahiriyyah, berisi syarah terhadap karya tulisnya sendiri al-mauidah al-kahiriyyah yang berisi syarah hadist arbain berdasarkan syair dari syeikh al-Basthomi dari al-hafidz abu bakar al-Bunyamin.

Tsulatsyiat al-Bukhori tentang hadist Imam Bukhori.

Unyathu al-Tholabah bi Syarhi Nadhomi at-thoyyibah fi qira’at as-syariyah tentang Qira’at menurut 10 Imam.

Al-fawaidh at-tamsyyiah fi asanid al-qira’at as-syariyyah.

Al-Badr al-Munir fi qira’at al-Imam ibnu katsir

Tanwir As-Shadr fi Qira’at al-Imam Abi Amir.

Insyirah al-Fuad fi qira’at al-Imam Hamzah.

Ta’mim al-manafi fi qira’at al-Imam Nafi’

Is’af al-Mathali bi Syarhi badr al-Lami’ Nadhami.

Jam’u al jawami’.

Inayah al-Muftaqar fima yata’allaq bi Sayyidina al-Khidir

Bughah al-adzbiya’ fi al bahtsin Karamat al-‘auliya.

Al-Kahbir bi syarhi Miftah (Abi Dzar).

Tahyiah al-Fikr alfiyyah (al sayir).

Dari beberapa karya karanya tersebut merupakan bahwa Syeikh mahfudz merupakan ulama besar dan sebagai salah seorang bintang dari ulama-ulama Al-Jawi (Melayu) di tanah suci Makkah. Karya-karyanya masih tetap dibaca kaum muslimin di Nusantara, karna mutunya dan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utama umat islam.

Syeikh Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi wafat pada hari Sabtu menjelang maghrib tanggal 1 Rajab 1338 H/ bertepatan tanggal 20 Maret 1920 M dalam usia 52 tahun menurut tahun masehi, 53 tahun lebih menurut tahun Hijriyah. Jenazah di makamkan dipekuburan ma’la dekat dengan makam Siti Khadijah. 

Sepeninggalan Syeikh Mahfudz…. putranya yang belum dewasa, Muhammad pulang kembali ke bentangan Demak (Indonesia) dan kelak Muhammad mendirikan pesantren Tahfidz Al-Qur’an di desa asal ibunya tersebut. 

Peninggalan Syeikh mahfudz untuk kaum muslimin, disamping kitab-kitab yang ditulisnya, juga murid-muridnya yang telah menjadi ulama pelita umat, diantaranya : KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul wahab hasbullah, KH. Bisri Syamsuri, KH. Mas Mansyur, KH. Dimyathi dan KH. Ahmad Dahlan, Semarang (keduanya adik sendiri), KH.R. Asnawi, Syeikh Umar Hamdani (Makkah), Syeikh Sa’dullah Al-maimani (Mufti Bombay India), Syeikh Ahmad bin Abdullah (ahli Qira’at syiria), Syeikh Ismail al Kalantani (kalantan Malaysia), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Referensi:

Direktori pesantren, P3M Jakarta, 1986.

Direktori pondok pesantren, dirjen bimbingan islam Depag jakarta,2000

Masyhuri, abdul aziz, 99 kiai pondok pesantren nusantara, kutub, yogyakarta, 2006.

Masthuri dan ishom el saha, inteletualisme pesantren II, diva pustaka, Jakarta, 2003.

Zamaksyari dhofir, tradisi pesantren, LP3es, Jakarta 1985.

Syaifuddin Zuhri, sejarah kebangkitan islam dan perkembangannya di Indonesia, al-ma’arif, bandung, 1981.

Abdullah, wan Mohd syaghir, syeikh Ahmad al-fathani pemikir Agung melayu dan Islam, khazanah fathamiah, kuala lumpur, 2005

Abdullah, wan M. Shaghir, Syeikh mahfudz at-Termasi ulama Hadist Dunia melayu, pengkaji, khazanah@yahoo.com

Majalah amanah n0.47/april 1988 tentang PP.Bustanul Qur’an bentengan Demak/KH.Muhammad bin Mahfudz.

Alkisah no.19/th II/13-26 september 2004.

Alkisah no.03/th VII/9-22 Februari 2009.

@ sumber artikel : https://sites.google.com/site/pustakapejaten/manaqib-biografi/7ulama-nusantara/kh-mahfudz-termas 

http://muhtadiblog.blogspot.co.id/2014/01/mengenal-sosok-syaikhina-kh-mahfudz.html?m=1