Rabu, 22 Maret 2023
BULE RUSIA INI TERNYATA SEORANG MUSLIMAH....
Minggu, 03 September 2017
Al-khalil bin Ahmad (Guru Besar Nahwu)
Dan nama lengkapnya dalam bahasa Arab seperti ini ( الخليل بن أحمد بن عمرو بن تميم الفراهيدي الأزدي اليحمدي ). Beliau lahir di Oman pada tahun 100H. Dan sejak kecil sudah hijrah ke Basra, dan menetap di sana hingga wafat.
Guru bahasa Arabnya antara lain: Ibnu Abi Ishaq Al-Hadhrami, Abu Amru Al-Bashri, dan Isa bin Umar Ats-Tsaqafi.
Berikut ini beberapa nama-nama murid yang menonjol dan disebutkan oleh ahli sejarah, diantaranya adalah Sibawaih, Abdulmalik bin Quraib Al-Asma’i, Al-Kisa’i, An-Nadhar bin Syamil, Harun bin Musa an-Nahwi, Wahb bin Jarir, dan Ali bin Nashr al-Hadhrami.
Sifat dan Akhlak Beliau
Ibnu Khalikan menukil dari salah satu muridnya An-Nadhr bin Syumail, ia berkata:”Al-Khalil tinggal di sebuah gubuk di kota Basra, yang harganya tidak lebih dari 2 fils (nominal yang sangat rendah sekali), padahal murid-muridnya mendapatkan banyak harta dari ilmu yang mereka peroleh darinya“.
Pernyataan tersebut menunjukkan kezuhudan dan berpalingnya dari kemewahan dunia. Padahal jika beliau mau, bisa saja ia meminta setiap yang ingin berguru kepadanya untuk membayar iuran tetap. Namun dengan ketinggian dan keluasan ilmunya, beliau tidak sombong dan takjub, atau menggunakannya untuk meraih kesenangan dunia.
Disebutkan bahwa gubernur Persia dan Ahwaz di masa itu mendengar perihal kehidupan beliau yang sahaja, bahkan sulit, ia ingin memberinya insentif bulanan dari harta negara, supaya bisa menutupi kebutuhan hidupnya.
Lalu ia mengutus utusannya kepada Al-Khalil dan mengundangnya ke istana.
Namun ketika utusan gubernur tiba, ia menyambutkan, lalu mengeluarkan roti kering dan berkata: “Katakan kepada tuanmu, aku tidak bisa menerima apa yang ia berikan, selama aku bisa mendapatkan ini, sudah cukup bagiku“.
Subhanallah, alangkah mulianya jiwa tersebut. Maka, tidaklah berlebihan ketika Imam Sufyan bin Uyainah –rahimahullahu– berkata: “Siapa yang ingin melihat orang yang diciptakan dari emas dan kasturi, hendaklah ia melihat kepada Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi.“
Karya Ilmiyyah
Kitab An-Nagham ( كِتَابُ النَّغَمِ ).
Kitab Al-‘Aruudh ( كِتَابُ العَرُوْضِ ).
Kitab Asy-Syawaahid ( كِتَابُ الشَّوَاهِدِ ).
Kitab An-Nuqath wa Asy-Syakl ( كِتَابُ النُّقَطِ وَالشَّكْلِ ).
Kitab Al-Iiqaa’ ( كِتَابُ الإِيْقَاعِ ).
Kitab Ma’aanii Al-Huruuf ( كِتَابُ مَعَانِي الحُرُوْفِ ).
Imam Adz-Dzhabi menyebutkan di bukunya Tarikh Al-Islam sebuah kisah yang menjelaskan sebab meninggalnya beliau, diriwayatkan bahwa ia (Al-Khalil) berkata: “Aku sedang memikirkan sebuah metode, supaya Al-Hisab (Matematika) mudah difahami oleh orang awam“. Lalu ia masuk ke masjid sambil terus berfikir, dan tanpa disadari ia menabrak tiang yang ada di depannya, lalu ia jatuh dan wafat setelahnya.
Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa ia menabrak tiang ketika sedang taqtii’ asy-syi’r (istilah untuk sebuah kegiatan dalam ilmu Al-‘Arudh), dan meninggal setelahnya.
Diambil dari
http://www.belajarbahasaarab.org/2015/10/biografi-al-khalil-bin-ahmad-al-farahidi.html
Sabtu, 02 September 2017
Imam Sibawaih (2)
Para sejarawan berselisih pendapat, kapan beliau lahir, dikarenakan rujukan dan referensi yang minim sekali. Ada beberapa ahli sejarah yang mengatakan kalau beliau lahir pada tahun 148H/765M. Tapi ada beberapa ahli sejarah yang mengatakan selain dari itu.
Dan yang pasti adalah beliau lahir di Albaidha’ (sebuah wilayah bagian dari Kekaisaran Persia). Walaupun lahir di Persia, namun Imam Sibawaih tumbuh dan besar di Bashra (Iraq).
Di awal menuntut ilmu, Sibawaih mendatangi masjis hadits yang diasuh oleh seorang Imam Hadits besar bernama Hammad bin Salamah Al-Bashri. Hingga suatu saat Sibawaih menyanggah sebuah hadits yang disampaikan oleh gurunya dan mengkritikinya dari sisi kaidah bahasanya. Dan ternyata apa yang disanggah oleh Sibawaih adalah salah, hingga menyebabkan sang guru marah dan berkata :”Wahai Sibawaih, kamu telah salah besar, itu tidak seperti yang kamu kira”. Lantas Sibawaih berkata :”Sungguh aku akan pelajari sebuah ilmu, yang dengannya aku tidak akan disalahkan lagi”. Maka ia pun mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bahasa Arab hingga ia mahir dan menjadi ahli di bidang tersebut.
Hammad bin Salamah Al-Bashri termasuk guru Sibawaih yang paling terkenal. Namun setelah ia memutuskan untuk beralih mempelajari ilmu bahasa Arab, maka ia pun berguru pada Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Ia berguru kepadanya penuh dengan rasa suka, tekad bulat dan keinginan yang kuat. Iapun mengikuti gurunya seperti bayangan mengikuti sebuah benda. Dan pengaruh gurunya itu terlihat jelas di lembaran-lembaran kitab karyanya.
Sibawaih tidak puas hanya berguru ilmu Nahwu dan bahasa Arab kepada Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, ia pun turut berguru kepada Yunus bin Habib, Isa bin Umar dan lain-lainnya. Maka terbukalah wawasan dan keilmuan Sibawaih, dan dengannya ia memperoleh martabat kelimuan yang spesial.
Kemudian ia pun marantau ke Baghdad pusat Dinasti Abbasiyah yang merupakan pusat peradaban dan keilmuan. Dan disana ia bertemu dengan Kisa’i (guru besar orang-orang Kufah). Dan terjadilah beberapa diskusi dan perdebatan dalam masalah Nahwu, dan yang paling terkenal adalah almas-alah az-zanbuuriyyah (diskusi tentang tawon).
Sibawaih tidak memiliki murid yang banyak, dikarenakan masa hidupnya yang singkat sebelum akhirnya ia meninggal. Di antara mereka berguru darinya dan menonjol adalah Abul Hasan Al-Akhfasy dan Quthrub (kecoa). Alasan kenapa ia disebut dan dikenal dengan julukan itu, karena suatu saat Sibawaih keluar di waktu menjelang terbitnya fajar, dan ia melihatnya berdiri di depan pintu, lalu Sibawaih berkata : “Sungguh kamu itu quthrub malam”, karena quthrub adalah binatang yang selalu bergerak dan tidak pernah diam (berhenti bergerak).
Sebagai dokumentasi pribadi :)
Sumber : http://www.belajarbahasaarab.org/2015/05/mengenal-imam-sibawaih.html
Imam Sibawaih
Masih dikutip dari Hasyiyah Ibnu Hamdun. Imam Sibawaih pernah menikah dengan seorang wanita dari Basrah. Sayangnya, meskipun wanita itu sangat mencintainya, beliau justru sibuk sendiri menekuni ilmu dan menulis kitab. Sang istri merasa cemburu dengan kitab-kitab itu.
Ada indikasi mereka mengiyakan pendapat al-Kisai, karena al-Kisai lebih dekat kepada penguasa atau mungkin saja mereka dalam tekanan.
Koleksi pribadi sebagai pengingat dan meneladani ulama2, hasil copas dari :
http://www.datdut.com/5-fakta-unik-tentang-imam-sibawaih-yang-harus-anda-tahu/
Jumat, 18 Agustus 2017
BIOGRAFI KH MUNAWIR KRAPYAK
Apabila kita berbicara mengenai ulama nusantara yang ahli al-Quran maka tidak bisa dilepaskan dengan sosok KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta. Nama beliau telah tercatat dengan menggunakan tinta emas dan abadi dalam hati para penghafal dan pecinta al-Quran di bumi pertiwi ini. Nama beliau harum semerbak mewangi dan telah menghantarkan ribuan para penghafal al-Quran menjadi orang-orang yang siap lahir batin menjadikan al-QUran sebagai pedoman dan wirid hidup mereka. Lalu bagaimanakah sebenarnya perjalanan hidup KH. Munawwir krapyak ini? Pada kesempatan kali ini admin majelis walisongo akan membagikan sekilas mengenai biografi beliau yang sangat indah ini semoga bermanfaat bagi para pembaca budiman dimanapun anda berada.
Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad
Cucu Seorang Pejuang Besar
Sosok KH. Munawir Krapyak tidak bisa lepas dari kebesaran nama Kyai Hasan Bashari atau lebih dikenal dengan Kyai Hasan Besari. Kyai Hasan Besari adalah merupakan ajudan pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasional yang sangat berjasa dalam usaha penumpasan penjajah di muka bumi pertiwi ini.
Pada waktu hidupnya, Kyai Hasan Besari ini critanya ingin menjadi seorang ulama yang hafal al-Quran dan karenanya beliau melakukan riyadhah dan berusaha keras lahir batin untuk menghafal al-Quran. Namun beliau suatu ketika mendapatkan ilham bahwa yang akan menjadi ahli al-Quran adalah anak cucu beliau. Demikian pula anaknya yang bernama KH. Abdullah Rosyad yang juga berjuang dengan riyadhah dan kedisiplinan tinggi untuk menghafal al-Quran. Bahkan ketika di tanah suci Makkah selama 9 tahun beliau riyadhah untuk menghafalkan al-Quran, namun beliau mendapatkan ilham bahwa yang akan dianugerahi hafal al-Quran adalah anak cucunya.
Di kemudian hari KH. Abdullah Rosyad ini memiiki sebelas orang anak dari empat orang istri. Dari kesebelas orang anak ini salah satunya adalah KYai Haji Muhamad Munawwir yang merupakan anak beliau dari buah pernikahan beliau dengan salah satu istri bernama Nyai Khadijah dari Bantul, Yogyakarta.
Belajar Ilmu Agama
Sejak kecil, KH. Munawir telah mendapatkan gemblengan pendidikan agama yang sangat ketat dari ayahnya sendiri yaitu KH. Abdullah Rosyad. Bahkan saking ketatnya beliau dituntut untuk bisa khatam dalam waktu seminggu sekali. Sang ayah dengan semangat besar senantiasa memberikan suntikang semangat dan dukungan baik materi maupun imateri pada beliau. Saking semangatnya, sang ayah akan memberikan hadiah sebesar Rp. 2,50 jika dalam satu minggu Munawwir kecil dapat mengkhatamkan al-Quran sekali. Padahal uang segitu di masa beliau cukup banyak untuk bisa digunakan membeli sesuatu. Dan memang pada akhirnya target khatam seminggu sekali dapat dilaksanakan oleh Munawir kecil dengan sangat baik, dan bahkan terus berlangsung secara istiqamah walaupun beliau tidak mendapatkan hadiah uang itu lagi.
Setelah dirasa cukup belajar kepada sang Ayah, KH. Munawir kecil kembali meneruskan perjalanan thalabul ilminya kepada para ulama besar baik itu ulama nusantara maupun ulama timur tengah. Adapun ulama nusantara yang pernah menjadi tempat beliau nyantri dan menimba ilmu adalah sebagai berikut:
Syaikh Abdurrahman Watucongol, MagelangSyaikh Sholeh Darat, SemarangSyaikh Kholil Bangkalan, MaduraSyaikh Abdullah, Kanggotan BantulPada tahun 1888 masehi beliau melanjutkan rihlah thalabul ilminya ke tanah suci,dan di sana beliau belajar kepada para ulama besar setempat, diantaranya kepada:
Syaikh SyarbiniSyaikh Abdullah SanqaraSyaikh Ibrahim HuzaimiSyaikh MukriSyaikh Abdus SyakurSyaikh MusthofaSyaikh Yusuf Hajar, yang merupakan guru beliau dalam qiraah sab'ah
Suatu ketika KH. Munawwir pernah bertemu dengan nabiyullah Khidir alaihis salam dan mendapatkan doa secara langsung dari beliau. Ceritanya, beliau di masa thalabul ilminya di tanah suci sedang dalam suatu perjalanan dari makkah menuju Madinah. Di suatu tempat di Rabigh beliau berumpa dengan seorang pak tua yang tidak beliau kenal. Pak tua tersebut kemudian mengajak berjabat tangan dan lantas mendoakan beliau semoga beliau menjadi seorang hafidzul quran wa hamilul quran sejati. Menurut Syaikh Arwani Amin, Kudus, orang tua yang menjabat tangan dan mendoakan KH. Munawwir itu adalah Nabiyullah Khidir Alaihis Salaam.
Riyadhah KH. Munawir dalam Menghafal dan Menjaga al-Quran
KH. Munawir merupakan sosok ulama yang sangat tekun dan istiqamah dalam menjaga dan mengamalkan al-Quran. Terkait dengan usaha beliau menjaga hafalan al-Quran maka beliau melakukan riyadhah yang sangat ketat dan sulit untuk ditiru oleh generasi sekarang ini. Beliau pernah melakukan riyadhah yaitu harus mengkhatamkan al-Quran sebanyak satu kali setiap 7 hari 7 malam. Riyadhah ini beliau lakukan selama 3 tahun. Setelah itu beliau meningkatkan kualitas riyadhahnya dengan cara mengkhatamkan al-Quran setiap 3 hari 3 malam sekali. Hal ini dilakukan selama 3 tahun. Setelah itu ditingkatkan lagi riyadhahnya dengan mengkhatamkan al-Quran 1 hari 1 malam sekali selama tiga tahun juga. Terakhir, beliau tingkatkan riyadhahnya dengan membaca al-Quran selama 40 hari tiada henti.
Adapun waktu yang biasa beliau gunakan untuk mewiridkan al-Quran adalah setiap selesai shalat ashar dan setiap bakda subuh. Selain itu, dimanapun beliau berada baik di rumah maupun sedang bepergian, senantiasa beliau itu tidak pernah lepas dari mewiridkan al-Quran. Walaupun beliau seorang hafidz al-Quran sejati, namun beliau masih saja sering terlihat menggunakan mushaf untuk dibaca karena memang seperti itulah cara seorang hafidz al-Quran dalam menjaga hafalannya, jangan mentang-mentang sudah hafal kemudian meninggalkan mushaf suci al-Quran. Itu merupakan kesombongan yang tidak boleh ada sedikitpun dalam diri para penghafal al-Quran.
Beliau secara istiqamah mengkhatamkan al-Quran seminggu sekali tepatnya pada hari kamis sore beliau melakukan khataman al-Quran. Amalan ini beliau lakukan sejak beliau masih berusia 15 tahun hingga beliau wafat.
Apabila KH. Munawir sedang menghadapi peristiwa ataupun masalah yang menyangkut umat/santri, maka beliau biasanya segera mengumpulkan para santri untuk berdoa bersama. Biasanya beliau memerintahkan para santri untuk bersama-sama mewiridkan shalawat nariyah sebanyak 4444 kali dan membaca surah Yasin sebanyak 41 kali.
Sosok KH. Munawir merupakan sosok yang amat istiqamah dalam beribadah. Lebih-lebih terkait ibadah shalat fardhu, maka beliau senantiasa menggunakan awal waktu untuk melaksanakannya. Begitu pula dengan shalat sunnah seperti shalat sunnah rawatib juga tidak pernah beliau tinggalkan. Beliau juga merupakan ulama yang senantiasa melanggengkan shalat sunnah witir, shalat sunnah isyraq, shalat sunnah dhuha, dan shalat sunnah tahajud. Beliau juga sangat menekankan pentingnya untuk berziarah kubur, mendoakan orang tua, ulama dan kaum muslimin yang telah lebih dahulu wafat dan bertabarukkan dengan mereka. Bahkan saking pentingnya, beliau mewajibkan para santri untuk istiqamah ziarah kubur setiap kamis sore.
Di mata beliau, seorang penghafal al-Quran yang sejati adalah sebagai berikut:
Senantiasa bertakwa kepada Allah ta'alaMampu shalat tarawih dengan hafalan al-Quran sebagai bacaan surahnyaBeliau sangat mengangungkan al-Quran dan mushaf suci al-Quran. Beliau termasuk orang yang sangat ketat dalam hal ini, hingga beliau hanya akan memberikan undangan haflah khotmil quran kepada orang-orang yang kalau memegang mushaf al-Quran senantiasa dalam keadaan suci dari najis dan hadats.
Ulama Besar yang Penuh Kesederhanaan
Sosok KH. Munawwir juga merupakan sosok yang terkenal rapi dan bersih serta senantiasa menampilkan kesederhanaan hidup. Beliau senantiasa menggunakan imamah dan penutup kepala seperti sorban, peci, maupun kedua-duanya. Kalau berpakaian maka beliau menggunakan pakaian yang bersih, suci, dan sederhana, seperti jubah, sarung, serban senantiasa bersih. Apabila bepergian beliau menggunakan jasnhitam, serban hijau, sarung dan alas kaki.
Beliau tidak pernah makan hingga kenyang, terlebih di waktu bulan ramadhan, maka beliau berbuka dan sahur ala kadarnya, cukup dengan satu cawan nasi ketan untuk sekali makan. Hal ini tentu saja akan bermanfaat bagi tubuh, karena mengonsumsi makanan dengan wajar akan menjadikan tubuh sehat dan proporsional, berbeda apabila terlalu kenyang maka akan menjadikan tidak bersemangat, mengantuk, dan pada akhirnya tidak bisa istiqamah beribadah kepada Allah.
Keluarga KH. Munawwir Krapyak
KH. Munawwir Krapyak hidup di tengah-tengah keluarga besar beliau yang ahli al-Quran. Beliau memiliki lima orang istri yang mana istri ke lima beliau nikahi sesudah wafatnya istri beliau yang pertama. Dan berikut ini adalah nama-nama istri beliau:
Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, YogyakartaNyai Haji Sukistiyah, Wates, YogyakartaNyai Salimah, Wonokromo, Bantul, YogyakartaNyai Rumiyah, Jombang, Jawa TimurNyai Khodijah, Knggotan, Gondowulung, Bantul, YogyakartaDari Nyai Raden Ajeng Mursydah ini beliau memiliki lima orang putra putri, yaitu:
Abdullah Siroj, wafat saat masih kecilKhodijah, wafat pada saat masih kecilUmatulloh, wafat pada saat masih kecilKH. Raden Abdullah AfandiKH. Raden Abdul Qadir Munawwir (lahir sabtu legi, pukul 17.00 WIB, tanggal 11 Dzulqa'dah 1338 H/24 Juli 1919 Masehi. Dari putra bungsu beliau inilah nantinya lahir seorang ulama besar, ahli al-Quran, hafidzul Quran, hamilul Quran di masa ini, yaitu Romo KH. Raden Muhammad Najib bin Romo KH. Raden Abdul Qadir bin KH. Munawwir Krapyak, yang sekarang menjadi pengasuh utama Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.Silsilah Sanad al-Quran Qiraah Imam Ashim dari Riwayat Hafs dan Thariq Ubaid bin al-Shabbah
Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Karim al-Hajj Umar al-Badri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ismail, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ahmad Ar-Rasyidi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Musthafa bin Abdurrahman al-Azmiri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Hijazi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ali bin Sulaiman al-Manshuri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Sulthan al-Muzaahi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Saifuddin Athaillah al-Fadholi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Syakhadzah al-Yamani, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Nashiruddin Ath-Thablawi, dariSayyidi Asy-Syaikh Zakariyya al-Anshari, dariSayyidi Al-Imam Ahmad As-Suyuthi, dariSayyidi al-Imam Abul Khair Muhammad bin Muhammad ad-Dimasyqi al-Masyhur (yang terkenal) dengan nama Syaikh al-Jazairi, dariSayyidi al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Khaliq al-Mishri asy-Syafi'i, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Syuja' bin Salim, bin Ali bin Musa al-Abbasi al-Mishri, dariSayyidi al-Imam Abul Qasim asy-Syathibi al-Andalusi asy-Syafi'i, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Hudzail, dariSayyidi al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Najah al-Andalusi, dariSayyidi al-Imam al-Hafidz Abu Amr Usman bin Said ad-Dani, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Thahir, dariSayyidi al-Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin al-Fairuzani al-Asynani, dariSayyidi al-Imam Abu Muhammad Ubaid bin Ash-Shabah bin Shabih al-Kufi, dariSayyidi al-Imam Abu Amr Hafs bin Sulaiman bin al-Mughirah al-Asadi al-Kufi, dari SAYYIDI AL-IMAM 'AASHIM BIN ABI AL-JUNUD, dariSayyidi Al-Imam Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib bin Rabi'ah as-Salma, dariSayyid Usman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dari Sayyidina Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'Anhu, dan Sayyidina Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ubay bin Ka'ab Radhiyallahu 'Anhu, dariSayyidina Wa Maulana Wa Habibina Rasulillah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa 'Alaa aalihi wa Shahbihi Wa Baraka Wa Sallam, dariRobbul Alamain, Allah Yang Maha Esa melalui perantara malaikat Jibril Alaihis Salaam. Murid-Murid Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta
Mbah Munawir dan Para Putra serta Menantu
Selama berdakwah dan menyebarkan ilmu agama, Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir telah menghasilkan murid yang menjadi ulama besar di masanya dan penerus perjuangan dakwah islamiyahnya. Diantara sekian banyak murid beliau yang kemudian menjadi penerus perjuangan dakwah beliau adalah sebagai berikut:
Sayyidi Asy-Syaikh Arwani Amin, Kudus, Seorang ulama besar nusantara yang juga ahli Quran mumpuniSayyidi Asy-Syaikh Zuhdi, Nganjuk, Kertosono,Sayyidi Asy-Syaikh Umar, Ponpes al-Muayyad, Mangkuyudan, SoloSayyidi Asy-Syaikh Badawi, Kaliwungu, SemarangSayyidi Asy-Syaikh Noor, Tegalarum, KertosonoSayyidi Asy-Syaikh Umar, Kempek, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Murtadha, Buntet, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Muntaha, Pesantren al-Asyariyyah, Kalibeber, WonosoboSayyidi Asy-Syaikh Ma'sum, Gedongan, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Abu Amar, kroyaSayyidi Asy-Syaikh Syathibi, Kyangkong, KutoarjoSayyidi Asy-Syaikh Suhaimi, Ponpes Tamrinus Shibyan, Benda, BumiayuSayyidi Asy-Syaikh Hasbullah, Wonokromo, YogyakartaSayyidi Asy-Syaikh Anshor, Pepedan, BumiayuSayyidi Asy-Syaikh Muhyiddin, Jejeran, YogyakartaSayyidi Asy-Syaikh Mahfudz, Purworejodan lain sebagainyaKaromah Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak
Diantara berbagai macam karamah yang dimiliki oleh KH. Munawir krapyak adalah beliau mampu menghafal keseluruhan al-Quran yang 30 juz hanya dalam jangka waktu 70 hari. Sebagian riwayat lainnya mengatakan hanya 40 hari. Kisahnya, ketika beliau sampai di tanah suci dan belajar ilmu agama di sana, beliau menulis surat kepada sang ayah yang isinya minta restu karena ingin menghafal al-Quran. Namun sang ayah belum mengizinkannya dan berniat akan mengirimkan surat balasan. Namun belum sempat surat balasan dikirim, sang ayah sudah mendapatkan surat kedua dari KH. Munawwir yang isinya memberitahukan bahwa ia sudah terlanjur hafal 30 juz.
Saat berusia 10 tahun, KH. Munawwir berangkat untuk mondok nyantri kepada Sayyidi Asy-Syaikh Kholil Bangkalan, Madura. Sesampainya di sana, saat iqamah shalat selesai dikumandangkan, tiba-tiba saja Kyai Kholil tidak bersedia menjadi imam. Beliau kemudian berkata, "Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (yakni KH. Munawir). Walaupun ia masih kecil tetapi ahli qiraat."
Mbah KH. Said Gedongan Cirebon (kakek KH. Mahrus Aly Lirboyo) sering mengirim uang kepada KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta ketika mondok di Makkah, padahal beliau berdua tidak saling kenal. Hal tersebut didasarkan atas kekaguman Mbah Said saat mendengar kabar bahwa ada orang Jawa yang rela susah payah mondok di Makkah demi menghafal Qur’an.
Ketika Mbah Munnawwir pulang ke tanah air, beliau segera mencari alamat Mbah Said untuk bersilaturrahmi dan mengucapkan terima kasih. Dan di Cirebon pada saat yang sama, Mbah Said menginstruksikan kepada santri-santrinya untuk segera wudlu. Dan beliau berkata: “Kalo memang Kyai Munawwir wali, maka hari ini beliau akan datang ke sini. Dan santri yang tidak punya wudlu dilarang salaman dengan orang suci.” Subhanalloh, Mbah Munawwir hari itu juga datang di Gedongan Cirebon.
Beberapa tahun kemudian, melihat potensi & kemampuan Mbah Munawwir, Keraton Jogja mengangkat beliau menjadi seorang qodli (hakim). Disamping menjadi qodli, beliau juga membuka pengajian di lingkungan keraton. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak jamaah pengajian beliau sehingga tempat yang tersedia tidak lagi muat. Hingga akhirnya Mbah Said memberikan sebidang tanah wakaf kepada Mbah Munawwir yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Krapyak.
Sosok Mbah Munawwir yang terkenal sebagai pembawa Qur’an ke Tanah Jawa tidak lepas dari figur ayahanda beliau yang bernama KH. Abdulloh Rosyad. Pada waktu muda, Mbah Rosyad punya keinginan kuat untuk menghafal Qur’an. Itu dibuktikan, ketika beliau menghafal dibarengi dengan riyadloh/ tirakat berendam di sungai (mungkin agar tidak ngantuk). Berkali-kali beliau melakukan tirakat tersebut dan suatu hari, beliau mendengar suara: “Hafalkan semampumu, karena itu bagianmu. Dan tidak usah berkecil hati, kamu akan diberi keturunan yang ahli Qur’an.”
Karomah lainnya adalah terkait dengan Kyai Aqil Sirodj dari Kempek Cirebon. Tatkala beliau masih berusia delapan tahun, beliau belum bisa mengucapkan bunyi huruf R dengan jelas. Namun setelah meminum air bekas cucian tangan KH. Munawir sebagain sarana tabarukan, langsung saja beliau dapat mengucapkan bunyi huruf R dengan sangat jelas.
KH.R. Abdul Qadir Munawir: Putra KH. Munawir
Peristiwa menarik pernah dialami oleh murid KH Moenawir, sewaktu beliau disuruh oleh istri Mbah Moenawir untuk meminta sejumlah uang kepada Mbah Moenawir yang akan digunakan sebagai keperluan belanja sehari hari, KH Moenawir selalu merogoh sejadahnya dan diserahkan uang tersebut kepada Muridnya, padahal selama ini muruid-muridnya hanya tahu bahwa sepanjang waktu Mbah Moenawir hanya duduk saja di serambi masjid sambil mengajar alquran.
Adalah KH. Abdullah Anshar dari Gerjen, Sleman. Tatakala beliau mengetahui wafatnya Mbah Munawir, beliau menangis sejadi-jadinya dan mengatakan kalau sudah tidak kerasan lagi hidup di dunia fana ini tanpa adanya Mbah Munawir. Akhirnya, dengan izin Allah, setelah pulang ke rumah, beliau langsung menyusul pulang ke rahmatullah.
Karomah lainnya adalah KH. Moenawir Mampu menghatamkan Al-Quran hanya dalam Satu rakaat sholat, dan sebagai orang awan mungkin itu Mustahil dilakukan tapi bagi KH Moenawir itu mampu Kedisiplinan KH.Moenawir dalam mengajar Alquran kepada murid-muridnya sangat ketat bahkan pernah muridnya membaca Fatihah sampai dua tahun diulang-ulang karena menurut KH Moenawir belum Tepat bacaannya baik dari segi Makhrajnya maupun tajwidnya, maka tak heran bila murid murid beliau menjadi Ulama-ulama yang Huffadz ( hapal quran) dan mendirikan Pesantren Tahfizul quran seperti Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an kudus (KH.Arwani Amin) , Pesantren Al Muayyad solo ( KH Ahmad Umar) dll.
Wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak
Tak ada manusia yang abadi selamanya hidup di alam raya ini. Begitu pula dengan KH. Munawwir Krapyak juga pada akhirnya harus menghadapi salah satu takdir ilahi yaitu kematian. Setelah berjuang menyebarkan dakwah islam dan mencetak generasi qurani selama puluhan tahun, beliau kemudian sakit selama kurang lebih 16 hari. Pada awalnya sakit yang beliau rasakan hanyalah sakit ringan, namun makin lama makin parah, dan tiga hari terakhir sangat parah hingga beliau tidak bisa tidur. Selama beliau sakit itu, selalu berkumandanglah bacaan surah Yasin sebanyak 41 kali yang dibaca oleh jamaah pengajian dan para santri secara bergantian. Satu rombongan selesai membaca, maka rombongan lainnya menyusul, demikian tidak ada putusnya.
KH.R. Najib Abdul Qadir: Pengasuh Ponpes Krapyak Saat ini
Akhirnya, Mbah Munawir Krapyak meninggal bakda jumat tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 masehi, di kediaman beliau di komplek Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ketika menghembuskan nafas beliau yang terakhir, beliau ditunggui oleh salah seorang putri beliau yang bernama Nyai Jamalah. Setelah dikafani, shalat jenazah pun diadakan sebagai bentuk doa dan penghormatan bagi beliau. Lantaran banyak pelayat yang datang dan mendoakan maka shalat jenazah dilakukan bergiliran hingga berpuluh-puluh kali. Imam Shalat jenazah kala itu diantaranya adalah Sayyidi Asy-Syaikh Ma'shum (Suditan Lasem), Sayyidi Asy-Syaikh Manshur (Popongan, Klaten), Sayyidi Asy-Syaikh Raden Asnawi (Bendan, Kudus), dan lain sebagainya.
Setelah wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawir Krapyak, perjuangan beliau diteruskan oleh murid-murid dan putra putri beliau. Sebelumnya almarhum KH. Munawir berwasiat agar keluarga yang melanjutkan perjuangan dakwah beliau adalah 2 orang putra dan 4 orang menantu. Namun karena beberapa udzur, maka perjuangan pesantren peninggalan beliau dikawal oleh tiga tokoh keluarga beliau yang amat terkenal dan merupakan ulama besar nusantara di masanya, yaitu:
Sayyidi Asy-Syaikh Romo KH. Raden Abdullah Afandi, yang merupakan putra beliau dari Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, yogyakarta. Beliau ditunjuk khusus untuk menangani pengajian al-Quran dan menngurusi hubungan pesantren dengan masyarakat luar pesantren. Beliau wafat pada tanggal 1 januari tahun 1968 Masehi.Sayyidi Asy-Syaikh Raden Abdul Qadir, putra KH. Munawir dari buah pernikahannya dengan Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, Yogyakarta. Di masa kepemimpinan beliau, pada tahun 1953, para santri penghafal al-Quran dihimpun dalam satu wadah yakni madrasah Huffadz, yang dibantu oleh KH. Mufid Masud (menantu KH. Munawir), Kyai nawawi (menantu KH. Munawwir), dan KH. Hasyim Yusuf (Nganjuk).Sayyidi Asy-Syaikh Ali Ma'shum (menantu KH. Munawir asal Lasem, suami dari Nyai. Hajah Hasyimah). Mbah Ali, begitu beliau dipanggil, telah membantu perjuangan dakwah pesantren Krapyak sejak tahun 1943 masehi. Dalam penyelenggaraannya, beliau menerapkan beberapa sistem pengajian,yakni sistem madrasi (klasik) dan sistem kuliyah, yang masing-masing dilengkapi dengan pengajian individual atau dikenal dengan sistem sorogan. Mbah Ali Ma'shum wafat pada tahun 1989 masehi dan pernah menjadi orang nomor 1 dalam jam'iyyah nahdlatul ulama. Demikianlah sekelumit biografi agung Sayyidi Asy-Syaikh Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari. Semoga bisa bermanfaat dan kita bisa mendapatkan pelajaran berharga yang dapat ditemui dalam diri seorang penghafal dan penjaga serta pengamal al-Quran al-karim.
Admin di Depan Makam Sayyidi Asy-Syaikh Munawir Krapyak
DAFTAR PUSTAKA
Disarikan dari berbagai sumber, khususnya dari buku yang berjudul "Manaqibus Syaikh: KH. M. Moenauwir Almarhum: Pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta" yang diterbitkan oleh Majelis Ahlein (keluarga besar Bani Munawwir) Pesantren krapyak, Keluaran tahun 1975 masehi.
Disadur pula dari buku karya Romo Yai M. Mas'udi Fathurrohman yang berjudul "Romo Kyai Qodir: Pendiri Madrasatul Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta".
BIOGRAFI KH MUNAWIR KRAPYAK
Apabila kita berbicara mengenai ulama nusantara yang ahli al-Quran maka tidak bisa dilepaskan dengan sosok KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta. Nama beliau telah tercatat dengan menggunakan tinta emas dan abadi dalam hati para penghafal dan pecinta al-Quran di bumi pertiwi ini. Nama beliau harum semerbak mewangi dan telah menghantarkan ribuan para penghafal al-Quran menjadi orang-orang yang siap lahir batin menjadikan al-QUran sebagai pedoman dan wirid hidup mereka. Lalu bagaimanakah sebenarnya perjalanan hidup KH. Munawwir krapyak ini? Pada kesempatan kali ini admin majelis walisongo akan membagikan sekilas mengenai biografi beliau yang sangat indah ini semoga bermanfaat bagi para pembaca budiman dimanapun anda berada.
Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad
Cucu Seorang Pejuang Besar
Sosok KH. Munawir Krapyak tidak bisa lepas dari kebesaran nama Kyai Hasan Bashari atau lebih dikenal dengan Kyai Hasan Besari. Kyai Hasan Besari adalah merupakan ajudan pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasional yang sangat berjasa dalam usaha penumpasan penjajah di muka bumi pertiwi ini.
Pada waktu hidupnya, Kyai Hasan Besari ini critanya ingin menjadi seorang ulama yang hafal al-Quran dan karenanya beliau melakukan riyadhah dan berusaha keras lahir batin untuk menghafal al-Quran. Namun beliau suatu ketika mendapatkan ilham bahwa yang akan menjadi ahli al-Quran adalah anak cucu beliau. Demikian pula anaknya yang bernama KH. Abdullah Rosyad yang juga berjuang dengan riyadhah dan kedisiplinan tinggi untuk menghafal al-Quran. Bahkan ketika di tanah suci Makkah selama 9 tahun beliau riyadhah untuk menghafalkan al-Quran, namun beliau mendapatkan ilham bahwa yang akan dianugerahi hafal al-Quran adalah anak cucunya.
Di kemudian hari KH. Abdullah Rosyad ini memiiki sebelas orang anak dari empat orang istri. Dari kesebelas orang anak ini salah satunya adalah KYai Haji Muhamad Munawwir yang merupakan anak beliau dari buah pernikahan beliau dengan salah satu istri bernama Nyai Khadijah dari Bantul, Yogyakarta.
Belajar Ilmu Agama
Sejak kecil, KH. Munawir telah mendapatkan gemblengan pendidikan agama yang sangat ketat dari ayahnya sendiri yaitu KH. Abdullah Rosyad. Bahkan saking ketatnya beliau dituntut untuk bisa khatam dalam waktu seminggu sekali. Sang ayah dengan semangat besar senantiasa memberikan suntikang semangat dan dukungan baik materi maupun imateri pada beliau. Saking semangatnya, sang ayah akan memberikan hadiah sebesar Rp. 2,50 jika dalam satu minggu Munawwir kecil dapat mengkhatamkan al-Quran sekali. Padahal uang segitu di masa beliau cukup banyak untuk bisa digunakan membeli sesuatu. Dan memang pada akhirnya target khatam seminggu sekali dapat dilaksanakan oleh Munawir kecil dengan sangat baik, dan bahkan terus berlangsung secara istiqamah walaupun beliau tidak mendapatkan hadiah uang itu lagi.
Setelah dirasa cukup belajar kepada sang Ayah, KH. Munawir kecil kembali meneruskan perjalanan thalabul ilminya kepada para ulama besar baik itu ulama nusantara maupun ulama timur tengah. Adapun ulama nusantara yang pernah menjadi tempat beliau nyantri dan menimba ilmu adalah sebagai berikut:
Syaikh Abdurrahman Watucongol, MagelangSyaikh Sholeh Darat, SemarangSyaikh Kholil Bangkalan, MaduraSyaikh Abdullah, Kanggotan BantulPada tahun 1888 masehi beliau melanjutkan rihlah thalabul ilminya ke tanah suci,dan di sana beliau belajar kepada para ulama besar setempat, diantaranya kepada:
Syaikh SyarbiniSyaikh Abdullah SanqaraSyaikh Ibrahim HuzaimiSyaikh MukriSyaikh Abdus SyakurSyaikh MusthofaSyaikh Yusuf Hajar, yang merupakan guru beliau dalam qiraah sab'ah
Suatu ketika KH. Munawwir pernah bertemu dengan nabiyullah Khidir alaihis salam dan mendapatkan doa secara langsung dari beliau. Ceritanya, beliau di masa thalabul ilminya di tanah suci sedang dalam suatu perjalanan dari makkah menuju Madinah. Di suatu tempat di Rabigh beliau berumpa dengan seorang pak tua yang tidak beliau kenal. Pak tua tersebut kemudian mengajak berjabat tangan dan lantas mendoakan beliau semoga beliau menjadi seorang hafidzul quran wa hamilul quran sejati. Menurut Syaikh Arwani Amin, Kudus, orang tua yang menjabat tangan dan mendoakan KH. Munawwir itu adalah Nabiyullah Khidir Alaihis Salaam.
Riyadhah KH. Munawir dalam Menghafal dan Menjaga al-Quran
KH. Munawir merupakan sosok ulama yang sangat tekun dan istiqamah dalam menjaga dan mengamalkan al-Quran. Terkait dengan usaha beliau menjaga hafalan al-Quran maka beliau melakukan riyadhah yang sangat ketat dan sulit untuk ditiru oleh generasi sekarang ini. Beliau pernah melakukan riyadhah yaitu harus mengkhatamkan al-Quran sebanyak satu kali setiap 7 hari 7 malam. Riyadhah ini beliau lakukan selama 3 tahun. Setelah itu beliau meningkatkan kualitas riyadhahnya dengan cara mengkhatamkan al-Quran setiap 3 hari 3 malam sekali. Hal ini dilakukan selama 3 tahun. Setelah itu ditingkatkan lagi riyadhahnya dengan mengkhatamkan al-Quran 1 hari 1 malam sekali selama tiga tahun juga. Terakhir, beliau tingkatkan riyadhahnya dengan membaca al-Quran selama 40 hari tiada henti.
Adapun waktu yang biasa beliau gunakan untuk mewiridkan al-Quran adalah setiap selesai shalat ashar dan setiap bakda subuh. Selain itu, dimanapun beliau berada baik di rumah maupun sedang bepergian, senantiasa beliau itu tidak pernah lepas dari mewiridkan al-Quran. Walaupun beliau seorang hafidz al-Quran sejati, namun beliau masih saja sering terlihat menggunakan mushaf untuk dibaca karena memang seperti itulah cara seorang hafidz al-Quran dalam menjaga hafalannya, jangan mentang-mentang sudah hafal kemudian meninggalkan mushaf suci al-Quran. Itu merupakan kesombongan yang tidak boleh ada sedikitpun dalam diri para penghafal al-Quran.
Beliau secara istiqamah mengkhatamkan al-Quran seminggu sekali tepatnya pada hari kamis sore beliau melakukan khataman al-Quran. Amalan ini beliau lakukan sejak beliau masih berusia 15 tahun hingga beliau wafat.
Apabila KH. Munawir sedang menghadapi peristiwa ataupun masalah yang menyangkut umat/santri, maka beliau biasanya segera mengumpulkan para santri untuk berdoa bersama. Biasanya beliau memerintahkan para santri untuk bersama-sama mewiridkan shalawat nariyah sebanyak 4444 kali dan membaca surah Yasin sebanyak 41 kali.
Sosok KH. Munawir merupakan sosok yang amat istiqamah dalam beribadah. Lebih-lebih terkait ibadah shalat fardhu, maka beliau senantiasa menggunakan awal waktu untuk melaksanakannya. Begitu pula dengan shalat sunnah seperti shalat sunnah rawatib juga tidak pernah beliau tinggalkan. Beliau juga merupakan ulama yang senantiasa melanggengkan shalat sunnah witir, shalat sunnah isyraq, shalat sunnah dhuha, dan shalat sunnah tahajud. Beliau juga sangat menekankan pentingnya untuk berziarah kubur, mendoakan orang tua, ulama dan kaum muslimin yang telah lebih dahulu wafat dan bertabarukkan dengan mereka. Bahkan saking pentingnya, beliau mewajibkan para santri untuk istiqamah ziarah kubur setiap kamis sore.
Di mata beliau, seorang penghafal al-Quran yang sejati adalah sebagai berikut:
Senantiasa bertakwa kepada Allah ta'alaMampu shalat tarawih dengan hafalan al-Quran sebagai bacaan surahnyaBeliau sangat mengangungkan al-Quran dan mushaf suci al-Quran. Beliau termasuk orang yang sangat ketat dalam hal ini, hingga beliau hanya akan memberikan undangan haflah khotmil quran kepada orang-orang yang kalau memegang mushaf al-Quran senantiasa dalam keadaan suci dari najis dan hadats.
Ulama Besar yang Penuh Kesederhanaan
Sosok KH. Munawwir juga merupakan sosok yang terkenal rapi dan bersih serta senantiasa menampilkan kesederhanaan hidup. Beliau senantiasa menggunakan imamah dan penutup kepala seperti sorban, peci, maupun kedua-duanya. Kalau berpakaian maka beliau menggunakan pakaian yang bersih, suci, dan sederhana, seperti jubah, sarung, serban senantiasa bersih. Apabila bepergian beliau menggunakan jasnhitam, serban hijau, sarung dan alas kaki.
Beliau tidak pernah makan hingga kenyang, terlebih di waktu bulan ramadhan, maka beliau berbuka dan sahur ala kadarnya, cukup dengan satu cawan nasi ketan untuk sekali makan. Hal ini tentu saja akan bermanfaat bagi tubuh, karena mengonsumsi makanan dengan wajar akan menjadikan tubuh sehat dan proporsional, berbeda apabila terlalu kenyang maka akan menjadikan tidak bersemangat, mengantuk, dan pada akhirnya tidak bisa istiqamah beribadah kepada Allah.
Keluarga KH. Munawwir Krapyak
KH. Munawwir Krapyak hidup di tengah-tengah keluarga besar beliau yang ahli al-Quran. Beliau memiliki lima orang istri yang mana istri ke lima beliau nikahi sesudah wafatnya istri beliau yang pertama. Dan berikut ini adalah nama-nama istri beliau:
Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, YogyakartaNyai Haji Sukistiyah, Wates, YogyakartaNyai Salimah, Wonokromo, Bantul, YogyakartaNyai Rumiyah, Jombang, Jawa TimurNyai Khodijah, Knggotan, Gondowulung, Bantul, YogyakartaDari Nyai Raden Ajeng Mursydah ini beliau memiliki lima orang putra putri, yaitu:
Abdullah Siroj, wafat saat masih kecilKhodijah, wafat pada saat masih kecilUmatulloh, wafat pada saat masih kecilKH. Raden Abdullah AfandiKH. Raden Abdul Qadir Munawwir (lahir sabtu legi, pukul 17.00 WIB, tanggal 11 Dzulqa'dah 1338 H/24 Juli 1919 Masehi. Dari putra bungsu beliau inilah nantinya lahir seorang ulama besar, ahli al-Quran, hafidzul Quran, hamilul Quran di masa ini, yaitu Romo KH. Raden Muhammad Najib bin Romo KH. Raden Abdul Qadir bin KH. Munawwir Krapyak, yang sekarang menjadi pengasuh utama Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.Silsilah Sanad al-Quran Qiraah Imam Ashim dari Riwayat Hafs dan Thariq Ubaid bin al-Shabbah
Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Karim al-Hajj Umar al-Badri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ismail, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ahmad Ar-Rasyidi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Musthafa bin Abdurrahman al-Azmiri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Hijazi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ali bin Sulaiman al-Manshuri, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Sulthan al-Muzaahi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Saifuddin Athaillah al-Fadholi, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Syakhadzah al-Yamani, dariSayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Nashiruddin Ath-Thablawi, dariSayyidi Asy-Syaikh Zakariyya al-Anshari, dariSayyidi Al-Imam Ahmad As-Suyuthi, dariSayyidi al-Imam Abul Khair Muhammad bin Muhammad ad-Dimasyqi al-Masyhur (yang terkenal) dengan nama Syaikh al-Jazairi, dariSayyidi al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Khaliq al-Mishri asy-Syafi'i, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Syuja' bin Salim, bin Ali bin Musa al-Abbasi al-Mishri, dariSayyidi al-Imam Abul Qasim asy-Syathibi al-Andalusi asy-Syafi'i, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Hudzail, dariSayyidi al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Najah al-Andalusi, dariSayyidi al-Imam al-Hafidz Abu Amr Usman bin Said ad-Dani, dariSayyidi al-Imam Abul Hasan Thahir, dariSayyidi al-Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin al-Fairuzani al-Asynani, dariSayyidi al-Imam Abu Muhammad Ubaid bin Ash-Shabah bin Shabih al-Kufi, dariSayyidi al-Imam Abu Amr Hafs bin Sulaiman bin al-Mughirah al-Asadi al-Kufi, dari SAYYIDI AL-IMAM 'AASHIM BIN ABI AL-JUNUD, dariSayyidi Al-Imam Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib bin Rabi'ah as-Salma, dariSayyid Usman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dari Sayyidina Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'Anhu, dan Sayyidina Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ubay bin Ka'ab Radhiyallahu 'Anhu, dariSayyidina Wa Maulana Wa Habibina Rasulillah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa 'Alaa aalihi wa Shahbihi Wa Baraka Wa Sallam, dariRobbul Alamain, Allah Yang Maha Esa melalui perantara malaikat Jibril Alaihis Salaam. Murid-Murid Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta
Mbah Munawir dan Para Putra serta Menantu
Selama berdakwah dan menyebarkan ilmu agama, Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir telah menghasilkan murid yang menjadi ulama besar di masanya dan penerus perjuangan dakwah islamiyahnya. Diantara sekian banyak murid beliau yang kemudian menjadi penerus perjuangan dakwah beliau adalah sebagai berikut:
Sayyidi Asy-Syaikh Arwani Amin, Kudus, Seorang ulama besar nusantara yang juga ahli Quran mumpuniSayyidi Asy-Syaikh Zuhdi, Nganjuk, Kertosono,Sayyidi Asy-Syaikh Umar, Ponpes al-Muayyad, Mangkuyudan, SoloSayyidi Asy-Syaikh Badawi, Kaliwungu, SemarangSayyidi Asy-Syaikh Noor, Tegalarum, KertosonoSayyidi Asy-Syaikh Umar, Kempek, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Murtadha, Buntet, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Muntaha, Pesantren al-Asyariyyah, Kalibeber, WonosoboSayyidi Asy-Syaikh Ma'sum, Gedongan, CirebonSayyidi Asy-Syaikh Abu Amar, kroyaSayyidi Asy-Syaikh Syathibi, Kyangkong, KutoarjoSayyidi Asy-Syaikh Suhaimi, Ponpes Tamrinus Shibyan, Benda, BumiayuSayyidi Asy-Syaikh Hasbullah, Wonokromo, YogyakartaSayyidi Asy-Syaikh Anshor, Pepedan, BumiayuSayyidi Asy-Syaikh Muhyiddin, Jejeran, YogyakartaSayyidi Asy-Syaikh Mahfudz, Purworejodan lain sebagainyaKaromah Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak
Diantara berbagai macam karamah yang dimiliki oleh KH. Munawir krapyak adalah beliau mampu menghafal keseluruhan al-Quran yang 30 juz hanya dalam jangka waktu 70 hari. Sebagian riwayat lainnya mengatakan hanya 40 hari. Kisahnya, ketika beliau sampai di tanah suci dan belajar ilmu agama di sana, beliau menulis surat kepada sang ayah yang isinya minta restu karena ingin menghafal al-Quran. Namun sang ayah belum mengizinkannya dan berniat akan mengirimkan surat balasan. Namun belum sempat surat balasan dikirim, sang ayah sudah mendapatkan surat kedua dari KH. Munawwir yang isinya memberitahukan bahwa ia sudah terlanjur hafal 30 juz.
Saat berusia 10 tahun, KH. Munawwir berangkat untuk mondok nyantri kepada Sayyidi Asy-Syaikh Kholil Bangkalan, Madura. Sesampainya di sana, saat iqamah shalat selesai dikumandangkan, tiba-tiba saja Kyai Kholil tidak bersedia menjadi imam. Beliau kemudian berkata, "Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (yakni KH. Munawir). Walaupun ia masih kecil tetapi ahli qiraat."
Mbah KH. Said Gedongan Cirebon (kakek KH. Mahrus Aly Lirboyo) sering mengirim uang kepada KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta ketika mondok di Makkah, padahal beliau berdua tidak saling kenal. Hal tersebut didasarkan atas kekaguman Mbah Said saat mendengar kabar bahwa ada orang Jawa yang rela susah payah mondok di Makkah demi menghafal Qur’an.
Ketika Mbah Munnawwir pulang ke tanah air, beliau segera mencari alamat Mbah Said untuk bersilaturrahmi dan mengucapkan terima kasih. Dan di Cirebon pada saat yang sama, Mbah Said menginstruksikan kepada santri-santrinya untuk segera wudlu. Dan beliau berkata: “Kalo memang Kyai Munawwir wali, maka hari ini beliau akan datang ke sini. Dan santri yang tidak punya wudlu dilarang salaman dengan orang suci.” Subhanalloh, Mbah Munawwir hari itu juga datang di Gedongan Cirebon.
Beberapa tahun kemudian, melihat potensi & kemampuan Mbah Munawwir, Keraton Jogja mengangkat beliau menjadi seorang qodli (hakim). Disamping menjadi qodli, beliau juga membuka pengajian di lingkungan keraton. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak jamaah pengajian beliau sehingga tempat yang tersedia tidak lagi muat. Hingga akhirnya Mbah Said memberikan sebidang tanah wakaf kepada Mbah Munawwir yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Krapyak.
Sosok Mbah Munawwir yang terkenal sebagai pembawa Qur’an ke Tanah Jawa tidak lepas dari figur ayahanda beliau yang bernama KH. Abdulloh Rosyad. Pada waktu muda, Mbah Rosyad punya keinginan kuat untuk menghafal Qur’an. Itu dibuktikan, ketika beliau menghafal dibarengi dengan riyadloh/ tirakat berendam di sungai (mungkin agar tidak ngantuk). Berkali-kali beliau melakukan tirakat tersebut dan suatu hari, beliau mendengar suara: “Hafalkan semampumu, karena itu bagianmu. Dan tidak usah berkecil hati, kamu akan diberi keturunan yang ahli Qur’an.”
Karomah lainnya adalah terkait dengan Kyai Aqil Sirodj dari Kempek Cirebon. Tatkala beliau masih berusia delapan tahun, beliau belum bisa mengucapkan bunyi huruf R dengan jelas. Namun setelah meminum air bekas cucian tangan KH. Munawir sebagain sarana tabarukan, langsung saja beliau dapat mengucapkan bunyi huruf R dengan sangat jelas.
KH.R. Abdul Qadir Munawir: Putra KH. Munawir
Peristiwa menarik pernah dialami oleh murid KH Moenawir, sewaktu beliau disuruh oleh istri Mbah Moenawir untuk meminta sejumlah uang kepada Mbah Moenawir yang akan digunakan sebagai keperluan belanja sehari hari, KH Moenawir selalu merogoh sejadahnya dan diserahkan uang tersebut kepada Muridnya, padahal selama ini muruid-muridnya hanya tahu bahwa sepanjang waktu Mbah Moenawir hanya duduk saja di serambi masjid sambil mengajar alquran.
Adalah KH. Abdullah Anshar dari Gerjen, Sleman. Tatakala beliau mengetahui wafatnya Mbah Munawir, beliau menangis sejadi-jadinya dan mengatakan kalau sudah tidak kerasan lagi hidup di dunia fana ini tanpa adanya Mbah Munawir. Akhirnya, dengan izin Allah, setelah pulang ke rumah, beliau langsung menyusul pulang ke rahmatullah.
Karomah lainnya adalah KH. Moenawir Mampu menghatamkan Al-Quran hanya dalam Satu rakaat sholat, dan sebagai orang awan mungkin itu Mustahil dilakukan tapi bagi KH Moenawir itu mampu Kedisiplinan KH.Moenawir dalam mengajar Alquran kepada murid-muridnya sangat ketat bahkan pernah muridnya membaca Fatihah sampai dua tahun diulang-ulang karena menurut KH Moenawir belum Tepat bacaannya baik dari segi Makhrajnya maupun tajwidnya, maka tak heran bila murid murid beliau menjadi Ulama-ulama yang Huffadz ( hapal quran) dan mendirikan Pesantren Tahfizul quran seperti Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an kudus (KH.Arwani Amin) , Pesantren Al Muayyad solo ( KH Ahmad Umar) dll.
Wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak
Tak ada manusia yang abadi selamanya hidup di alam raya ini. Begitu pula dengan KH. Munawwir Krapyak juga pada akhirnya harus menghadapi salah satu takdir ilahi yaitu kematian. Setelah berjuang menyebarkan dakwah islam dan mencetak generasi qurani selama puluhan tahun, beliau kemudian sakit selama kurang lebih 16 hari. Pada awalnya sakit yang beliau rasakan hanyalah sakit ringan, namun makin lama makin parah, dan tiga hari terakhir sangat parah hingga beliau tidak bisa tidur. Selama beliau sakit itu, selalu berkumandanglah bacaan surah Yasin sebanyak 41 kali yang dibaca oleh jamaah pengajian dan para santri secara bergantian. Satu rombongan selesai membaca, maka rombongan lainnya menyusul, demikian tidak ada putusnya.
KH.R. Najib Abdul Qadir: Pengasuh Ponpes Krapyak Saat ini
Akhirnya, Mbah Munawir Krapyak meninggal bakda jumat tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 masehi, di kediaman beliau di komplek Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ketika menghembuskan nafas beliau yang terakhir, beliau ditunggui oleh salah seorang putri beliau yang bernama Nyai Jamalah. Setelah dikafani, shalat jenazah pun diadakan sebagai bentuk doa dan penghormatan bagi beliau. Lantaran banyak pelayat yang datang dan mendoakan maka shalat jenazah dilakukan bergiliran hingga berpuluh-puluh kali. Imam Shalat jenazah kala itu diantaranya adalah Sayyidi Asy-Syaikh Ma'shum (Suditan Lasem), Sayyidi Asy-Syaikh Manshur (Popongan, Klaten), Sayyidi Asy-Syaikh Raden Asnawi (Bendan, Kudus), dan lain sebagainya.
Setelah wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawir Krapyak, perjuangan beliau diteruskan oleh murid-murid dan putra putri beliau. Sebelumnya almarhum KH. Munawir berwasiat agar keluarga yang melanjutkan perjuangan dakwah beliau adalah 2 orang putra dan 4 orang menantu. Namun karena beberapa udzur, maka perjuangan pesantren peninggalan beliau dikawal oleh tiga tokoh keluarga beliau yang amat terkenal dan merupakan ulama besar nusantara di masanya, yaitu:
Sayyidi Asy-Syaikh Romo KH. Raden Abdullah Afandi, yang merupakan putra beliau dari Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, yogyakarta. Beliau ditunjuk khusus untuk menangani pengajian al-Quran dan menngurusi hubungan pesantren dengan masyarakat luar pesantren. Beliau wafat pada tanggal 1 januari tahun 1968 Masehi.Sayyidi Asy-Syaikh Raden Abdul Qadir, putra KH. Munawir dari buah pernikahannya dengan Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, Yogyakarta. Di masa kepemimpinan beliau, pada tahun 1953, para santri penghafal al-Quran dihimpun dalam satu wadah yakni madrasah Huffadz, yang dibantu oleh KH. Mufid Masud (menantu KH. Munawir), Kyai nawawi (menantu KH. Munawwir), dan KH. Hasyim Yusuf (Nganjuk).Sayyidi Asy-Syaikh Ali Ma'shum (menantu KH. Munawir asal Lasem, suami dari Nyai. Hajah Hasyimah). Mbah Ali, begitu beliau dipanggil, telah membantu perjuangan dakwah pesantren Krapyak sejak tahun 1943 masehi. Dalam penyelenggaraannya, beliau menerapkan beberapa sistem pengajian,yakni sistem madrasi (klasik) dan sistem kuliyah, yang masing-masing dilengkapi dengan pengajian individual atau dikenal dengan sistem sorogan. Mbah Ali Ma'shum wafat pada tahun 1989 masehi dan pernah menjadi orang nomor 1 dalam jam'iyyah nahdlatul ulama. Demikianlah sekelumit biografi agung Sayyidi Asy-Syaikh Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari. Semoga bisa bermanfaat dan kita bisa mendapatkan pelajaran berharga yang dapat ditemui dalam diri seorang penghafal dan penjaga serta pengamal al-Quran al-karim.
Admin di Depan Makam Sayyidi Asy-Syaikh Munawir Krapyak
DAFTAR PUSTAKA
Disarikan dari berbagai sumber, khususnya dari buku yang berjudul "Manaqibus Syaikh: KH. M. Moenauwir Almarhum: Pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta" yang diterbitkan oleh Majelis Ahlein (keluarga besar Bani Munawwir) Pesantren krapyak, Keluaran tahun 1975 masehi.
Disadur pula dari buku karya Romo Yai M. Mas'udi Fathurrohman yang berjudul "Romo Kyai Qodir: Pendiri Madrasatul Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta".
Selasa, 15 Agustus 2017
BIOGRAFI KH Arwani Kudus
BIOGRAFI KH. M. ARWANI AMIN KUDUS
Selain dikenal dengan sebutan Kota Kretek, Kudus juga dikenal sebagai Kota Religius atau lebih medasar lagi dikenal dengan sebutan Kota Santri. Pasalnya, banyak di antara santri yang menuntut ilmu di kota yang kharismatik yang menjadi panutan masyarakat sekitar Kudus. Di antara sekian banyak ulama di kota Kudus banyak ulama di kota Kudus yang menjadi tauladan bagi masyarakat adalah beliau al-Maghfurlah KH. M. Arwani Amin.
Sekitar lebih 100 meter di sebelah selatan Masjid Menara Kudus, tepatnya di Desa Madureksan, Kerjasan, dulu tersebutlah pasangan keluarga shaleh yang sangat mencintai al-Qur’an. Pasangan keluarga ini adalah KH. Amin Sa’id dan Hj. Wanifah. KH. Amin Sa’id ini sangat dikenal di Kudus kulon terutama di kalangan santri, karena beliau memiliki sebuah toko kitab yang cukup dikenal, yaitu toko kitab al-Amin. Dari hasil berdagang inilah, kehidupan keluarga mereka tercukupi.
Yang menarik adalah, meski keduanya (H. Amin Sa’id dan istrinya) tidak hafal al-Qur’an, namun mereka sangat gemar membaca al-Qur’an. Kegemarannya membaca al-Qur’an ini, hingga dalam seminggu mereka bisa khatam satu kali. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh orang kebanyakan, bahkan oleh orang yang hafal al-Qur’an sekalipun.
*Kelahiran KH. M. Arwani Amin Said*
KH. M. Arawani Amin Said dilahirkan pada hari Selasa Kliwon pukul 11.00 siang tangga l5 Rajab 1323 H bertepatan dengan 5 September 1905 M di kampung Kerjasan Kota Kudus Jawa Tengah. Ayah beliau bernama H. Amin Said dan ibunya bernama Hj.Wanifah.
Sebenarnya nama asli beliau adalah Arwan, akan tetapi setelah beliau menunaikan ibadah haji yang pertama namanya diganti menjadi Arwani. Dan hingga wafat beliau dikenal memiliki nama lengkap sebagai KH. M. Arawani Amin Said dan panggilan akrabnya adalah Mbah Arwani Kudus.
Arwan adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Kakaknya yang pertama seorang perempuan bernama Muzainah. Sementara adik-adiknya secara berurutan adalah Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Muflikhak dan Ulya. Dari kedua belas ini, ada tiga yang paling menonjol, yaitu Arwan, Farkhan dan Ahmad Da’in, ketiga-tiganya hafal al-Qur’an.
Dari sekian saudara KH. M. Arwani Amin, yang dikenal sama-sama menekuni al-Qur’an adalah Farkhan dan Ahmad Da’in. Ahmad Da’in, adiknya Mbah Arwani ini bahkan terkenal jenius, karena beliau sudah hafal al-Qur’an terlebih dahulu daripada Mbah Arwan yakni pada umur 9 tahun. Ia bahkan hafal Hadits Bukhori Muslim dan menguasai Bahasa Arab dan Inggris. Kecerdasan dan kejeniusan Da’in inilah yang menggugah Mbah Arwani dan adiknya Farkhan, terpacu lebih tekun belajar.
Arwan kecil hidup di lingkungan yang sangat taat beragama (religius). Kakek dari ayahnya adalah salah satu ulama besar di Kudus, yaitu KH. Imam Haramain. Sementara garis nasabnya dari ibu, sampai pada pahlawan nasional yang juga ulama besar Pangeran Dipenegoro yang bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.
*Kehidupan Keluarga KH. M. Arwani Amin*
Ayahanda Mbah Arwani yaitu H. Amin Said adalah seorang kiyai yang cukup disegani dan dihormati oleh masyarakat disekitar beliau tinggal. Meskipun ayah dan bunda beliau tidak hafal al-Qur’an, namun tempat tinggal beliau dikenal sebagai rumah al-Qur’an, karena setiap pekan mereka selalu mengkhatamkan al-Qur’an.
Istri beliau bernama Ibu Nyai Hj. Naqiyul Khud. Beliau menikah pada tahun 1935 M dimana pada saat itu status beliau adalah seorang santri dari pondok pesantren al-Munawir Krapyak Yogyakarta. Ibu Naqi adalah putri dari H. Abdul Hamid, seorang pedagang kitab. Tokonya sekarang masih ada,bahkan semakin berkembang. Beliau memiliki empat orang anak yaitu Ummi dan Zukhali Uliya (meninggal saat masih bayi) serta KH. M. A. Ulin Nuha Arwani dan KH. M. A. Ulil Albab Arwani.
*Masa Menuntut Ilmu KH. M. Arwani Amin Said*
KH. M. Arwani Amin dan adik-adiknya sejak kecil hanya mengenyam pendidikan di madrasah dan pondok pesantren. Arwani kecil memulai pendidikannya di Madrasah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan, sebelah utara Menara Kudus. Beliau masuk di madrasah ini sewaktu berumur 7 tahun. Madrasah ini merupakan madrasah tertua yang ada di Kudus yang didirikan oleh Syarikat Islam (SI) pada tahun 1912. Salah satu pimpinan madrasah ini di awal-awal didirikannya adalah KH. Abdullah Sajad.
Setelah sudah semakin beranjak dewasa, akhirnya memutuskan untuk meneruskan ilmu agama Islam ke berbagai pesantren di tanah Jawa, seperti Solo, Jombang, Jogjakarta dan sebagainya. Dari perjalanannya berkelana dari satu pesantren ke pesantren itu, talah mempertemukannya dengan banyak kiai yang akhirnya menjadi gurunya (masyayikh).
Adapun sebagian guru yang mendidik KH. M. Arwani Amin diantaranya adalah KH. Abdullah Sajad (Kudus), KH. Imam Haramain (Kudus), KH. Ridhwan Asnawi (Kudus), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. Muhammad Manshur (Solo), KH. M. Munawir (Yogyakarta) dan lain-lain.
*Kepribadian KH. M. Arwani Amin Said*
Selama berkelana mencari ilmu baik di Kudus maupun di berbagai pondok pesantren yang disinggahinya, KH. M. Arwani Amin dikenal sebagai pribadi yang santun dan cerdas karena kecerdasannya dan sopan santunnya yang halus itulah, maka banyak kiainya yang terpikat. Karena itulah pada saat mondok KH. M. Arwani Amin sering dimintai oleh kiainya membantu mengajar santri-santri lain. Lalu memunculkan rasa sayang di hati para kiainya.
Beliau hidup di lingkungan masyarakat santri yang sangat ketat dalam menghayati dan mengamalkan agama. Oleh karena itu wajar saja jika beliau tumbuh menjadi seorang yang memiliki perangai halus, sangat berbakti kepada kedua orang tua, mempunyai solidaritas yang tinggi, rasa setia kawan dan suka mengalah tapi tegas dalam memegang prinsip.
Beliau dikaruniai kecerdasan dan minat yang kuat dalam menuntut ilmu. Pada masa remajanya dihabiskan untuk menuntut ilmu mengembara dari pesantren ke pesantren. Tidak kurang dari 39 tahun hidup beliau dihabiskan untuk menuntut ilmu dari kota ke kota yang dimulai dari kotanya sendiri yaitu Kudus. Kemudian dilanjutkan ke Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren Tebu Ireng Jombang, Pesantren al-Munawir Krapyak Yogyakarta dan diakhiri di Pesantren Popongan Solo.
Sekitar tahun 1935, KH. Arwani Amin pun melaksanakan pernikahan dengan salah satu seorang putri Kudus, yang kebetulan cucu dari guru atau kiainya sendiri yaitu KH. Abdullah Sajad. Perempuan sholehah yang disunting oleh beliu adalah ibu Naqiyul Khud.
Dari pernikahannya dengan ibu Naqiyul Khud ini, KH. M. Arwani Amin diberi dua putrid dan dua putra. Putri pertama dan kedua beliau adalah Ummi dan Zukhali (Ulya), namun kedua putri beliau ini menginggal dunia sewaktu masih bayi.
Yang tinggal sampai kini adalah kedua putra beliau yang kelak meneruskan perjuangan KH. M. Arwani Amin dalam mengelola pondok pesantren yang didirikannya. Kedua putra beliau adalah KH. Ulin Nuha (Gus Ulin) dan KH. Ulil Albab Arwani (Gus Bab). Kelak, dalam menahkodai pesantren itu, mereka dibantu oleh KH. Muhammad Manshur. Salah satu khadam KH. M. Arwani Amin yang kemudian dijadikan sebagai anak angkatnya.
*perjuangan KH. M. Arwani Amin Said*
Beliau mengajarkan al-Qur’an pertama kali sekitar tahun 1942 di Masjid Kenepan Kudus yaitu setamat beliau nyantri dari pesantren al-Munawir Krapyak Yogyakarta. Pada periode ini santri-santri beliau kebanyakan berasal dari luar kota Kudus. Seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit santri beliau semakin bertambah banyak dan bukan hanya dari Kudus dan sekitarnya, tapi ada yang berasal dari luar propinsi bahkan dari luar pulau Jawa. Kemudian beliau membangun sebuah pondok pesantren yang diberi nama Yanbu’ul Qur’an yang berarti Sumber al-Quran. Pondok pesantren ini didirikan pada tahun 1393 H/1979 M.
KH. M. Arwani Amin meninggalkan sebuah kitab yang diberi nama Faidh al-Barakat fi as-Sabi’a Qira’at.
Semasa hidupnya beliau juga mengajarkan Thariqat Naqsabandiyah Kholidiah yang pusat kegiatannya bertempat di mesjid Kwanaran. Beliau memilih tempat ini karena suasana di sekeliling cukup sepi dan sejuk. Disamping itu tempatnya dekat perumahan dan sungai Gelis yang airnya jernih untuk membantu penyediaan air untuk para peserta kholwat. KH. M. Arwani amin juga pernah menjadi pimpinan Jam’iyah Ahli ath-Thariqat al-Mu’tabarah yang didirikan oleh para kyai pada tanggal 10 Oktobrr 1957 M. Dan dalam Mu’tamar NU 1979 di Semarang nama tersebut diubah menjadi Jam’iyyah Ahl ath-Thariqat al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN).
*Kelebihan KH. M. Arwani Amin Said*
KH. M. Arwani Amin dikenal sebagai seorang ulama yang sangat tekun dalam beribadah. Dalam melaksanakan sholat wajib beliau selalu tepat waktu dan senantiasa berjamaah meskipun dalam keadaan sakit. Kebiasaan tersebut sudah beliau jalani sejak berada di pesantren.
Sewaktu masih belajar Qiraat Sab’ah pada KH. Munawir di Krapyak yang pelajarannya dimulai pada pukul 02.00 dinihari sampai menjelang Shubuh beliau sudah siap pada pukul 12.00 malam. Dan sambil menunggu waktu pelajaran dimulai beliau manfaatkan untuk melaksanakan sholat sunnah dan dzikir. Kebiasaan tersebut tetap berlanjut setelah beliau kembali dan bermukim di Kudus.
Biasanya beliau mulai tidur pukul 20.00 WIB dan bangun pukul 21.00 WIB. Kemudian dilanjutkan melaksanakan sholat sunnah dan dzikir. Apabila sudah lelah kemudian tidur lagi kira-kira selama satu sampai dua jam kemudian bangun lagi untuk melaksanakan sholat dan dzikir, begitu setiap malamya sehingga bila dikalkulasi beliau hanya tidur dua sampai tiga jam setiap malamnya
KH. M. Arwani Amin Said dikenal oleh msyarakat di sekitarnya sebagai seorang ulama yang memiliki kelebihan yang luar biasa. Banyak yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang wali,beberapa santrinya mengatakan bahwa KH.Arwani Amin memiliki indra keenam dan mengetahui apa yang akan terjadi dan melihat apa yang tidak terlihat.
Konon, menurut KH. Sya’roni Ahmadi, kelebihan Mbah Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat orangtuanya yang senang membaca al-Qur’an. Dimana orangtuanya selalu menghatamkan membaca al-Qur’an meski tidak hafal.
Selain barokah orantuanya yang cinta kepada al-Qur’an, KH. Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru pada ulama-ulama.
Selama menjadi santri, Mbah Arwani selalu disenangi para kyai dan teman-temannya karena kecerdasan dan kesopanannya. Bahkan, karena kesopanan dan kecerdasannya itu, KH. Hasyim Asy’ari sempat menawarinya akan dijadikan menantu.
Namun, Mbah Arwani memohon izin kepada KH. Hasyim Asy’ari bermusyawarah dengan orang tuanya. Dan dengan sangat menyesal, orang tuanya tidak bisa menerima tawaran KH. Hasyim Asy’ari, karena kakek Mbah Arwani (KH. Haramain) pernah berpesan agar ayahnya berbesanan dengan orang di sekitar Kudus saja.Akhirnya, Mbah Arwani menikah dengan Ibu Nyai Naqiyul Khud pada 1935. Bu Naqi adalah puteri dari H. Abdul Hamid bin KH. Abdullah Sajad, yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri.
*Murid KH. M. Arwani Amin Said*
Ribuan murid telah lahir dari pondok yang dirintis KH. M. Arwani Amin tersebut. Banyak dari mereka yang menjadi ulama dan tokoh. Sebut saja diantara murid-murid KH. M. Arwani Amin yang menjadi ulama adalah:
1) KH. Sya’roni Ahmadi (Kudus)
2) KH. Hisyam (Kudus)
3) KH. Abdullah Salam (Kajen)
4) KH. Muhammad Manshur
5) KH. Muharror Ali (Blora)
6) KH. Najib Abdul Qodir (Jogja)
7) KH. Nawawi (Bantul)
8) KH. Marwan (Mranggen)
9) KH. A. Hafidz (Mojokerto)
10) KH. Abdullah Umar (Semarang)
11) KH. Hasan Mangli (Magelang)
*KH. M. Arwani Amin Said Berpulang ke Rahmatullah*
Dengan keharuman namanya dan berbagai pujian dan sanjungan penuh rasa hormat dan ta’dzim atas kealimannya, beliu wafat pada taggal 25 Rabiul Akhir tahun 1415 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober tahun 1994 M dalam usia 92 tahun (dalam hitungan Hijriyah). Beliau dimakamkan di komplek Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus.
https://kumpulanbiografiulama.wordpress.com/2013/04/01/biografi-kh-m-arwani-amin-kudus/
